Contributors

Don't miss

Wednesday, July 29, 2009

Antara Jihad dan Jahat


Dua pekan lalu negeri tercinta kita diguncang bom di dua hotel mewah di Jakarta. Korbannya bukan tentara Israel atau agen Mosad atau pelaku kejahatan. Belum ada kepastian siapa pelakunya karena lakon utama masih belum ditemukan. Yang berkembang hanya hipotesa, dugaan dan jugdment. Parahnya media massa seakan hanya memberikan satu perspektif saja dan mengarahkannya pada JI (Jaringann Islam), sebuah nama organisasi yang sejauh ini belum cukup dipahami oleh masyarakat. Akibatnya, stigma negatif terhadap Islam makin kental. Sejurus dengan itu, analisis atau pendangan kiritis terhadap versi mainstream sangat mungkin dikategorikan sebagai keberpihakan terhadap frase seram "terorisme". Demikian DR Muhsin Labib, pengamat politik dan pakar Islam, mengawali tulisannya yang dimuat di Adilnews dalam menanggapi fenomena terakhir di nusantara.

Lebih lanjut DR Muhsin Labib mengatakan, tidak sedikit yang kebingungan mengambil sikap karena karena kerumitan seputar makna jihad dan mujahid. Terlalu banyak kata jihad yang diobral dan terlalu gampang orang digelari mujahid.
Terma jihad dan derivatnya digunakan sebanyak 35 kali dalam al-Qur'an. Jihad secara leksikal bermakna usaha dan memberdayakan serta mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mewujudkan satu tujuan; akan tetapi, karena derivasinya berasal dari mufa'alah, biasanya digunakan dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat semacam korporasi, kerja sama, persyarikatan dan pertemanan.

Karena itu, dalam terma jihad biasanya pihak lainnya juga digunakan. Dan kedua belah pihak masing-masing berdiri pada barisannya dan berupaya untuk mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin sehingga dapat menaklukan salah satu pihak yang ada.

Tetapi, tentu saja, harus diperhatikan bahwa jihad tidak hanya berbentuk militer dan setiap jenis perlawanan dan pertempuran. Selain bercorak militer jihad juga bernuansa ekonomi atau budaya atau politik semuanya termasuk di dalam makna jihad ini.

Demikian juga harus diketahui bahwa terma jihad tidak selamanya bermakna positif. Terkadang terma jihad digunakan dalam makna negatif. Contohnya ayat 8 surah Ankabut (29). Dalam ayat ini, Allah Swt setelah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua mereka, berfirman: "...Dan jika keduanya memaksamu (jรขhadรข-ka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu Aku wartakan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan."

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Allah Swt berfirman "'ala an tusyrika bi" (untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku) sebagai ganti firman "litusyrika bi" (untuk mempersekutukan-Ku): "Dan jika keduanya memaksamu untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik..." (QS. Luqman [31]:15).

Pada ayat 15 Surah Luqman tersebut, jelaslah kata jihad berkonotasi negatif. Karena di sana ada unsur memaksa si anak menjadi musyrik oleh usaha ibu bapaknya. Sebaliknya, pada ayat yang lain, terma jihad dan mujahadah yang digunakan memiliki makna positif yakni, usaha keras manusia untuk mewujudkan tujuan-tujuan sehat dan diridai oleh Allah Swt.

Usaha dan upaya positif semacam ini terkadang hanya memanfaatkan media-media finansial dan ekonomi, yang disebut sebagai jihad finansial; misalnya, menyumbang orang-orang sakit, membangun rumah sakit, sekolah bagi anak terlantar dan panti asuhan anak yatim.

Dalam bagian tulisannya yang juga dimuat di blog pribadinya http://muhsinlabib.wordpress.com, Dr Muhsin Labib seraya menjelaskan terminologi jihad lainnya, mengatakan, terkadang yang dimaksud dengan jihad adalah menentang nafs ammarah yang disebut sebagai "jihad melawan nafsu" atau "jihad akbar". Sebagian besar ayat-ayat al-Quran memuat terma jihad dengan makna demikian. Di sini kita akan menyinggung ayat yang berkenaan dengan masalah ini.

Allah Swt berfirman: "Dan barangsiapa berjihad (jรขhadah), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (QS. al-Ankabut [29]:6). Dan pada ayat lain Allah berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad (jรขhadรป) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-Ankabut [29]:69).

Bagaimanapun contoh jelas dan makna yang paling gamblang dari terma jihad adalah berperang di jalan Allah Swt dimana orang yang berjihad menempatkan diri mereka untuk mencapai syahid. Jihad semacam ini juga akan memiliki korelasi dengan jihad melawan hawa nafsu.

Pejuang sejati adalah orang yang mengorbankan diri dan ego serta kepentingannya, bukan malah mengorbankan nyawa orang lain dan masyarakat umum. Pejuang yang layak dianggap syahid adalah orang yang tidak menganggap remeh nyawa dan peluang hidup banyak orang.

Boleh jadi, dalam situasi perang melawan musuh, merakit dan meledakkan bom menjadi keharusan, tapi mengubah arena sipil menjadi medan pertempuran dengan musuh "yang bisa siapa saja" bukanlah tindakan yang harmonis dengan nilai dan filosofi jihad. Yang begini, bukan jihad, tapi jahat.

Tuesday, July 28, 2009

Catatan Kecil untuk Republika: Kaum Sunni Bukanlah Teroris!!


Hampir media-media dunia, termasuk Indonesia, hingga kini, masih mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan Iran. Tidak hanya isu politik dalam dan luar negeri Iran namun isu Sunni dan Syiah selalu diangkat ke dalam permukaan.

Koran Republika melaporkan, Iran telah menghukum gantung dua anggota kelompok gerilyawan Sunni di sebuah penjara Sabtu karena pembunuhan dan serangan di sebuah tempat di Iran tenggara yang bergolak.

Dalam pemberitaan tersebut, Koran Republika menyebut Kantor Berita Iran, IRNA, sebagai sumber berita tersebut.

Tidak hanya berita semacam itu, ada berita yang sangat mengelitik ketika Islam Muhammadi menelusuri situs Indonesia, waspada.com. Dengan menampilkan headline besar, waspada dot com dengan sinis menulis berita fiktif dengan judul; Terhukum mati wanita di Iran, diperkosa sebelum dieksekusi.

Pemberitaan sinis tentang Iran akhir-akhir ini terus bergulir dan menjadi santapan media-media dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi sangat disayangkan, bila pemberitaan sinis juga muncul dari sebuah koran muslim seperti Republika. Terlebih, Koran Republika dalam laporan penggantungan dua warga Iran, menyebut mereka sebagai dua anggota kelompok gerilyawan Sunni.

Padahal penyebutan istilah Sunni tidak dikutip dalam pemberitaan Kantor Berita IRNA maupun berita-berita Iran lainnya. Bahkan kelompok Sunni Iran sendiripun tidak pernah mengangap Jundullah adalah kelompok Sunni, sebagaimana tayangan wawancara ulama Sunni Sistan-Balochistan di TV nasional Iran chanel 1.

Dalam laporannya, Kantor Berita IRNA menyebutkan, Pengadilan Sistan-Balochistan, dua anggota kelompok teroris Abdul Malik Rigi dieksekusi di sekitar penjara Zahedan dengan tudingan melakukan penyerangan atau melakukan perang terhadap Allah Swt dan efsad fil ard atau pengrusakan di muka bumi.

Dalam hal ini Kantor Berita IRNA dalam menyebutkan bahwa kedua teroris tersebut berupaya menyelundupkan narkotika ke negara ini.

Koran Republika yang disebut-sebut sebagai media muslim, sangat disayangkan melaporkan berita yang bernuansa mengadu domba. Pada prinsipnya, kenapa menghubungkan kelompok teroris dengan Sunni?. Dalam kamus terorisme tidak mengenal madzhab dan agama. Dua anggota kelompok teroris Abdul Malik Rigi tidak sepatutnya disebut sebagai kelompok yang dikaitkan dengan madzhab dan agama tertentu. Agama apapun menolak aksi kekerasan dan terorisme. Untuk itu, media-media tidak sepatutnya melakukan aksi provokasi yang mengaitkan aksi terorisme dan tindakan kriminal dengan sebuah madzhab dan agama.

Abdul Hamid Rigi adalah saudara gembong teroris Abdul Malik Rigi di hadapan para wartawan di Zahedan mengatakan, saudaranya, Abdul Malik Rigi, menjadi anggota kelompok teroris Jundullah sejak umur 12 tahun. Pada awalnya, Abdul Malik Rigi bergabung dengan kelompok teroris yang dipimpin oleh Maolabakhs Derakhshan, bahkan ia selama beberapa tahun menjadi pelaksana instruksi aksi terorisme di wilayah Sistan-Balochistan, Afghanistan dan Pakistan.

Menurut Abdul Hamid Rigi, saudaranya yang melakukan berbagai pertemuan dengan AS, menerima fasilitas dan uang dalam jumlah besar dari AS. Dikatakannya, Abdul Malik Rigi dalam satu pertemuan dengan pejabat AS, menerima 100 ribu dolar dan berbagai fasilitas seperti satelit komunikasi.

Dengan demikian, kelompok Jundullah yang berhubungan dengan Abdul Malik Rigi, adalah kelompok teroris yang melakukan pengrusakan atau efsad fil ard di kawasan. Segala sesuatu yang berhubunga dengan tindakan teroris tidak sepatutnya dikaitkan dengan sebuah agama dan madzhab.

Dalam bagian beritanya, Koran Republika kembali menekankan, Iran yang dominan Muslim Syiah mengatakan Jundullah merupakan bagian dari jaringan al Qaida Islam Sunni dan didukung oleh AS, musuh lama Iran. Koran Republika menambahkan, Jundullah berperang untuk hak-hak minoritas Sunni di republik Islam itu.

Pemberitaan Koran Republika begitu menekankan status Sunni yang diimbuhkan pada jaringan Al-Qaida dan dikaitkan dengan pernyataan Iran sebagai dominan muslim Syiah. Ungkapan-ungkapan yang dilaporkan Situs Koran Republika sangatlah tendensius, bahkan cenderung mengadu domba. Koran Republika yang disebut-sebut media muslim tidaklah pantas menulis laporan-laporan tendensius yang mengundang fitnah.

Menghubungkan kelompok teroris dengan sebuah madzhab dan agama sama halnya dengan mendukung propaganda Barat yang tengah memecah-belah ummat Islam. Untuk itu, sangatlah disayangkan, Koran Republika yang disebut-sebut sebagai media muslim, bukannya menghadapi propaganda Barat, tapi malah terjebak dalam jeratannya. Di Iran, kelompok Sunni sama sekali tidak diperlakukan secara diskriminatif. Bahkan Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mempunyai penasehat khusus urusan Ahlus Sunnah dari kalangan ulama Sunni. Ini membuktikan bahwa Iran tetap memikirkan nasib warga Sunni di negara ini. [islammuhammadi]

Tudingan Palsu AS soal Nuklir Iran


Lagi-lagi AS melontarkan tudingan tak berdasar soal nuklir Iran. Kali ini, giliran Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton mengulang tudingan palsu itu. Ia meminta Tehran untuk segera membatalkan program nuklirnya dan kembali ke meja perundingan. Kemarin, (Ahad, 26/7) Hillary dalam wawancara dengan Televisi NBC, menyinggung lagi tudingan lama AS soal rencana Iran untuk membuat senjata nuklir. Ia menyatakan, di mata Washington dilanjutkannya upaya semacam itu tidak akan bisa diterima.

Pekan lalu, Menlu AS itu juga sempat melonatarkan tudingan serupa terhadap Iran. Ia juga menyatakan kesiapan Washington untuk mempersenjatai negara-negara sekutunya di Teluk Persia dan memperluas payung pertahanan regional guna menghalau apa yang disebutnya sebagai ancaman nuklir Iran.

Sejatinya, pernyataan Hillary yang diungkapkan dengan gaya retorika bernada ancaman itu, merupakan pembenaran atas klaim dan ancaman yang selama ini kerap dilontarkan rezim zionis Israel. Upaya semacam itu sengaja dilempar untuk menciptakan iklim anti-Iran dan memprovokasi opini publik.

Bahkan dalam beberapa waktu belakangan, upaya itu kian gencar dilakukan. Selama tiga dekade terakhir dengan pelbagai dalih dan tudingan palsu, AS senantiasa berusaha menekan Iran untuk mencabut tuntutannya. Namun usaha itu pun tak juga berhasil. Sebaliknya, rakyat Iran justru menunjukkan bahwa tekad mereka tidak akan bisa dipatahkan begitu saja hanya dengan ancaman atau gertakan. Mereka justru berhasil menggagalkan upaya sepihak sejumlah negara Barat dengan bersandar pada kekuatannya sendiri.

Meski demikian, Iran senantiasa menunjukkan itikad baiknya sebagai bangsa yang rasional dan mengutamakan dialog untuk membantu menyelesaikan pelbagai persoalan regional dan internasional. Tentu saja, hubungan kooperatif semacam itu harus dilandasi dengan keadilan dan sikap saling menghormati.

Selama ini, AS dan sejumlah negara-negara arogan lainnya, senantiasa turut campur dalam menentukan nasib negara-negara lain dengan cara memanfaatkan tatanan dunia yang tidak adil dan pelbagai konspirasi. Mereka juga tak segan-segan memanfaatkan lembaga-lembaga internasional semacam Dewan Keamanan PBB untuk menekan dan menghukum negara lain sesuai dengan kepentingan mereka.

Namun begitu, kekuatan arogan dunia mesti tahu bahwa politik gertak sambal ataupun ancaman militer tidak akan bisa menundukkan tekad bangsa Iran. Sebaliknya, bangsa ini justru akan membalas setimpal setiap pukulan yang diarahkan kepadanya. Karena itu, tak heran jika banyak analis menyebutkan bahwa sejatinya rezim zionis Israel tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menyerang Iran. Apalagi, dengan kekalahan memalukan Israel dalam perang 33 Hari melawan Hizbullah Lebanon, mitos bahwa Israel merupakan kekuatan tak terkalahkan di Timur Tengah hanya sekedar isapan jempol belaka. [indonesian.irib.ir]

Monday, July 20, 2009

"Black Friday" Jakarta



Ledakan bom "Black Friday" yang terjadi pada Jumat 17 Juli di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta. Dianggap sebagai sebuah tragedi dan kejahatan di luar batas kemanusiaan. Seluruh elemen bangsa, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan politisi Indonesia harus bersatu dan jangan saling menyalahkan atas tragedi tersebut.

Ada pihak-pihak yang tidak senang terhadap situasi Indonesia yang kondusif dalam berdemokrasi, politik yang stabil, keamanan yang terkendali serta suasana damai yang berkembang.

Tindakan keji ini jelas sebuah upaya untuk merusak citra Indonesia di mata internasional, Masyarakat atau siapapun tidak berspekulasi, memberikan tuduhan, men-judge kelompok tertentu apalagi dikaitkan dengan isu agama, karena akan sangat berbahaya dan menimbulkan masalah baru. Sebaliknya, semua harus diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis, khususnya kepada aparat keamanan nagara dapat bertindak cepat mengusut tuntas tragedi tersebut..

Intelijen harus bekerja lebih profesional agar tidak kecolongan lagi di masa mendatang.

"Kita menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Kita berdoa semoga tragedi-tragedi serupa dijauhkan dari muka Ibu Pertiwi,"
Kita mengecam keras atas pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta dan mengucapkan belasungkawa dan simpati pada korban. [IslamTimes/R]

Pidato Nasrullah Menyambut Setahun Pembebasan Samir Kuntar



Menyambut peringatan setahun pembebasan Samir Kuntar dan empat tawanan Lebanon dari tangan rezim zionis Israel menyusul kemenangan Hizbullah dalam perang 33 hari, Sekjen Gerakan Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah menekankan kembali terus dilanjutkannya muqawama atau perlawanan anti-zionis. Ditegaskannya, dalam menghadapi rezim zionis Israel, kita menghadapi perang tanpa batas.

Acara peringatan setahun pembebasan para tawanan Lebanon itu dihadiri oleh pelbagai tokoh politik, aktifis, dan mantan tawanan dari Lebonan dan Palestina. Dalam pidatonya di acara itu, Sayid Hasan Nasrullah menyatakan, "Kita adalah pemegang amanah muqawama dan kita akan selalu memenuhi tanggung jawab kita di hadapan ribuan tawanan Palestina dan non-Palestina di penjara-penjara rezim zionis Israel".

Sekjen Hizbullah itu menilai bahwa pembebasan para tawanan Lebanon merupakan kemenangan ilahi. Ditambahkannya, "Rezim zionis adalah rezim rasialis dan hasil rekayasa. Sementara dunia hanya diam terbisu melihat kejahatan dan pembantaian yang dilakukan rezim tersebut terhadap ribuan rakyat Palestina di Gaza. Bahkan hingga kini ribuan lelaki dan anak-anak serta perempuan masih mendekam di penjara-penjara rezim zionis"

Sebagaimana diketahui, pertengahan Juli tahun lalu, Hizbullah menggelar operasi penukaran tawanan dengan rezim zionis Israel yang dikenal sebagai Operasi Radwan. Dalam operasi itu, Samir Kuntar, tawanan Lebanon yang paling lama ditahan Israel selama 30 tahun, berhasil dibebaskan bersama empat tawanan Lebanon lainnya. Operasi pembebasan tawanan itu diberi nama Operasi Radwan sebagai bentuk penghargaan rakyat Lebanon atas jasa-jasa komandan Hizbullan, Syahid Imad Mughniyeh atau Haj Radwan yang gugur syahid akibat serangan teror rezim zionis.

Pasca pembebasan, media-media Israel pun segera mengakui bahwa operasi penukaran tawanan Lebanon dengan mayat serdadu rezim zionis itu merupakan aksi yang memalukan bagi Tel Aviv. Selama ini, tidak PBB, tidak juga Palang Merah Internasional, atau Liga Arab maupun pemerintah Lebanon mampu membebaskan para tawanan dari tangan Israel, namun Hizbullah dibawah kepemimpinan Sayid Hasan Nasrullah berhasil melakukannya.

Di bagian lain pidatonya, Sayid Hasan Nasrullah juga menyinggung situasi akhir politik di Lebanon. Ia mengajak kepada seluruh komponen politik untuk tetap menjaga persatuan dan mempertahankan situasi aman. Ia juga menekankan perlu dibentuknya pemerintahan koalisi yang merangkul seluruh kelompok dan aliran. Ditambahkannya pula, pemilu parlemen Lebanon baru-baru ini membuktikan bahwa seluruh faksi-faksi politik memiliki pengaruh. Karena itu, setiap keputusan yang diambil mesti melibatkan seluruh faksi yang ada. [indonesian.irib.ir]

Thursday, July 9, 2009

Tragedi Syahidah Jilbab dan Islamfobia di Barat



Peristiwa tragis menimpa seorang muslimah Mesir Rabu pekan lalu (1/7) di ruang pengadilan di wilayah timur Kota Dresden, Jerman. Marwa al-Sherbini ditikam seorang pria berkebangsaan Jerman keturunan Rusia, bernama Alex W (28 tahun) sebanyak 18 kali. Serangan itu begitu tiba-tiba. Dalam hitungan 30 menit, Alex membantai Sherbini.

Peristiwa berdarah ini terjadi pada saat Sherbini tengah menghadiri sidang pertama pengajuan naik banding atas kasus yang dialaminya. Sebelumnya, Sherbini mengajukan gugatan atas pelecehan Alex terhadap jilbab yang dikenakannya. Alex beberapa kali melakukan penyerangan dengan mencoba merenggut paksa jilbab yang dikenakan Sherbini.

Atas tindakan rasisnya itu, pengadilan Dresden mendenda Alex, imigran asli Rusia, sebesar 730 euro atau sekitar Rp 9,85 juta.Tak puas atas putusan sidang, Alex pun naik banding. Dalam persidangan naik banding pertama itulah, Alex menyerang Sherbini dan menikamnya hingga tewas.

Sang suami yang mencoba menyelamatkan Sherbini yang tengah mengandung tiga bulan itu juga tak luput dari serangan. Malangnya, sang suami mengalami luka serius akibat terkena tembakan petugas yang salah sasaran. Kini, Alex ditahan dan jaksa sedang melakukan investigasi terhadap tersangka pembunuhan itu.

Jenazah Sherbini telah dipulangkan ke tanah kelahirannya di Mesir. Ribuan warga Mesir yang berduka, berbaris di belakang peti mati Sherbini, Senin (6/7). Warga di kampung halamannya marah dengan serangan tersebut dan mengutuk respons pasif Jerman.
Marwa tercatat sebagai dosen di Institut Teknik Genetika Universitas Monoufeya Mesir dan berada di Jerman dalam rangka studi program PhD bidang farmasi dengan beasiswa dari Max Planck Institute.

Saudara lelaki Marwa, Tarek El Sherbini mengungkapkan, kasus ini menjadi pemberitaan di Jerman, karena aparat berwenang di Jerman merahasiakan insiden tersebut. Menurut Tarek, kakaknya dibunuh hanya karena mengenakan jilbab. Tarek menuturkan, "Kami hanya menginginkan hak-haknya dipulihkan, dia dibunuh karena menjalankan ajaran agama Islam."

Menurut Tarek, Marwa adalah saudara perempuan satu-satunya. Marwa memiliki seorang anak laki bernama Mustafa yang masih berusia 3,5 tahun dan saat dibunuh, Marwa sedang hamil tiga bulan. Sementara suami Marwa, Elwi Ali dikabarkan masih dirawat di ruang perawatan intensif di Jerman.

Sementara itu, para pemimpin Muslim mengatakan, pembunuhan terhadap Sherbini merupakan bukti berkembangnya Islamfobia di Barat. Juru bicara Koalisi Melawan Islamfobia, Sami Dabbah mengatakan, ''Apa yang menimpa Sherbini sangat berbahaya. Kami telah mengingatkan bahwa suatu hari, kita akan melihat seorang Muslimah dibunuh karena jilbabnya.''

Tidak bisa dipungkiri, kasus pembunuhan bermotif rasis terhadap Marwa al-Sherbini menunjukkan fenomena Islamofobia yang tengah menjangkiti masyarakat Barat. Sebagaimana dilansir Republika, hari ini (kamis,9/7), sebuah studi yang dilakukan Institut untuk Riset Antar-Disiplin menemukan fakta bahwa warga Eropa cenderung melihat Islam tidak sejalan dengan peradaban dan budaya Barat.

Sebanyak 65 persen dari 3.000 responden dari latar belakang usia, pendidikan dan sosial menolak kehadiran Islam di Eropa. Mereka mengklaim jika prinsip Islam tidak bisa harmoni dengan atmosfer di Barat. Dari studi itu terungkap hanya 25 persen responden yang memperbolehkan imigran Muslim baru masuk ke negara.

Sebagian besar responden beranggapan jumlah pendatang asing telah meningkat di luar batas. Yang lebih menyedihkan lagi, 30 persen responden mendesak agar pemerintah mendeportasi warga asing yang mencari kerja di Jerman. Mereka menilai tingkat pengangguran semakin meninggi dan kesempatan kerja di Jerman semakin menipis

Saat ditanya apakah mereka mau tinggal di distrik yang dipenuhi populasi Muslim seperti Kreuzberg, sebanyak 50 persen menjawab 'tidak'. Selain itu, sebanyak 65 persen responden memiliki keraguan terhadap tetangga Muslim mereka. Sebanyak 30 persen responden mengaku asing di dalam masyarakat yang kian padat dengan kehadiran Muslim di Jerman.

Namun, hasil survey juga memberi beberapa kejutan. Sentimen anti-Islam ternyata meningkat di kalangan kelas menengah di Jerman, bukan hanya terkonsentrasi pada grup ultra-kanan. Studi itu menyimpulkan, stereotip negatif terhadap Muslim tersebar secara luas di warga Jerman, tanpa memandang segmen sosial responden.

Mereka yang mengekspresikan pandangan secara blak-blakan, ironisnya cenderung memiliki latar belakang sosial bersekat, budaya keengganan dan ketakutan untuk melakukan itu sehari-hari. Menurut hitungan survei, jumlah Muslim di Jerman sekitar 5 juta dari populasi total sebesar 82 juta.

Studi juga menemukan fakta bahwa responden menyalahkan beberapa politisi yang membantu meningkatkan sentimen publik terhadap warga asing dan minoritas, sehingga terasa nyata. Dari keseluruhan survei, tim menyimpulkan kecenderungan Islamofobia yang merebak terjadi pula di negara-negara Eropa lain.

Kelompok Muslim Jerman mengkritik pemerintah, petugas, dan media karena tidak memberi perhatian khusus terhadap kejahatan tersebut. Media-media Jerman dan Eropa memperlakukan kasus pembunuhan bermotif rasisme dan Islamofobia sebagai kasus kecil. Islamonline melaporkan, media Barat hanya memuat kasus ini tak lebih dari berita satu-dua kolom di halaman kriminal biasa.

Menyindir sikap pemerintah dan para politisi di Jerman, harian independen di Mesir, El-Shorouk menulis, kalau korbannya Yahudi, barulah dunia gempar. Seorang bloger Mesir bernama Hicham Maged dalam blognya menulis,"Mari kita bayangkan, jika kondisinya dibalik, korban adalah orang Barat yang ditusuk di dunia atau di salah satu negara Timur Tengah oleh seorang Muslim ekstrim."

Mengamini statemen Ketua Dewan Perlindungan Jilbab, Abeer Pharaon, ''Sherbini bukan hanya syahidah jilbab, tapi korban Islamfobia, seperti yang diderita umat Muslim di Eropa.'' (PH/Eramuslim, Republika, islamonline)

Wednesday, July 8, 2009

Sayyid Ali Khamenei: "Jangan salah memperlakukan kawan layaknya lawan."



Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei menyebut kebutuhan paling penting bagi dunia Islam khususnya bangsa Iran saat ini adalah persatuan dan kewaspadaan dalam menghadapi tipu daya musuh yang berusaha menebar perpecahan. Hal itu dikatakan beliau dalam pidatonya di depan ribuan orang di Huseiniyah Imam Khomeini (ra) Tehran hari ini (6/7) pada acara peringatan milad Imam Ali bin Abi Thalib (as).

Menyinggung peran Islam dan Revolusi Islam dalam mempersatukan bangsa Iran, beliau menyerukan agar persatuan yang tercipta ini dijaga dan dipertahankan. Lebih lanjut beliau mengulas soal pemilu presiden periode kesepuluh di Iran yang terselenggara secara meriah tanggal 12 Juni lalu dan diikuti oleh 85 persen rakyat pemegang hak pilih. "Partisipasi luas masyarakat ini membuktikan bahwa revolusi Islam yang kini telah berusia 30 tahun mampu memobilisasi rakyat. Karena itu, musuh pun bergerak untuk menebar fitnah perpecahan di tengah rakyat. Sedikit banyak mereka meraih sukses, tetapi bangsa Iran harus mematahkan tipu daya ini," tegas beliau.

Rahbar menjelaskan bahwa pemerintahan Republik Islam memliki aturan dan kebijakan yang jelas, dan persaingan antar kandidat presiden adalah kompetisi dalam sebuah keluarga. Beliau menambahkan, "Terkadang persaingan seperti ini menimbulkan emosi, tapi yang jelas, semua itu tak ada kaitannya dengan dunia luar."

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan Barat dan pihak asing untuk tidak campur tangan dalam urusan internal Iran. Menurut beliau pemilihan umum presiden tanggal 12 Juni di Iran adalah pesta demokrasi yang sesungguhnya. Partisipasi hampir 40 juta warga dalam pemilu adalah anugerah Ilahi yang patut disyukuri. Untuk mensyukurinya bangsa ini harus menjaga persatuan, kasih sayang antar sesama, mempertahankan semangat, dan melanjutkan gerak laju revolusi serta tak salah dalam menentukan kawan dan lawan.

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menjelaskan bahwa intervensi musuh ditujukan untuk menciptakan perpecahan di tengah bangsa ini. Beliau mengatakan, "Sejumlah pemimpin dan pejabat tinggi di sejumlah negara Barat termasuk Presiden, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri secara jelas dan transparan melakukan intervensi dalam urusan internal Iran yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Anehnya, mereka tetap mengaku tidak campur tangan, padahal mereka secara jelas memprovokasi para pengacau dan menyebut bangsa Iran sebagai bangsa perusuh."

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan kembali bahwa para pengacau keamanan pasca pemilu hanya berjumlah segelintir orang yang menerima uluran dana dari pihak Barat untuk menjalankan misi tertentu sebagai imbalannya. Beliau menegaskan, "Wajar jika ada sekelompok orang yang terpukul dan sedih ketika kandidat yang dijagokannya tak memenangi pemilu. Tapi ini bukan berarti kerusuhan. Sebab, pemilu menentukan mayoritas dan minoritas dalam sebuah negara yang memiliki aturan. Karena itu tak benar jika lantas media-media Amerika dan Eropa yang notabene dikuasai orang-orang Zionis menyebut rakyat Iran sebagai perusuh. Ini jelas pelecehan terhadap bangsa Iran."

Rahbar dengan keras memperingatkan para pemimpin Barat dan mengatakan, "Mereka harus berhati-hati dalam berucap dan bersikap. Sebab rakyat Iran pasti akan mereaksi setiap ucapan dan sikap mereka."

"Kita", kata beliau, "akan memperhitungkan seluruh pernyataan dan sikap intervensi negara-negara Barat, dan pasti, untuk ke depan penilaian kita akan berdampak negatif pada hubungan Republik Islam Iran dengan mereka."

Menyebut bangsa Iran sebagai bangsa yang kuat dan pemerintahan Islam sebagai pemerintahan yang berakar kokoh, beliau menandaskan, "Mungkin saja ada perselisihan di antara para petinggi Republik Islam Iran, namun dalam menghadapi musuh dan demi mempertahankan kemerdekaan negara mereka pasti bersatu. Musuh harus sadar bahwa tak mungkin mereka bisa memecah belah bangsa Iran."

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Para penguasa di negara-negara arogan hendaknya sadar bahwa bangsa ini akan segera menanggalkan segala perselisihan di antara mereka jika harus berhadapan dengan musuh yang sama. Mereka akan bersama-sama melayangkan pukulan telak ke arah musuh."

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan resistensi bangsa Iran selama 30 tahun usia revolusi Islam dalam menghadapi tipu daya dan makar musuh-musuhnya. Kepada para pemimpin di Dunia Barat beliau mengatakan, "Jangan sangka dengan membela satu kelompok politik atau memuji salah satu nama lantas kalian akan memperoleh pembelaan dan dukungannya. Tidak. Sebab, bangsa Iran telah mengenal kebohongan kalian. Bangsa ini sadar bahwa kalian berambisi menebar sikap buruk sangka antara rakyat dan elit negara. Kalian ingin rakyat ini menjauh dari pemerintahan Islam."

Keruntuhan pemerintahan Islam di Iran, disebut oleh beliau, sebagai impian kosong pihak arogansi dunia. "Pemerintahan Islam yang independen dan resisten ini tak mungkin tunduk di hadapan arogansi mereka," tegas beliau. Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengungkapkan, "Aksi mendukung kelompok tertentu dan menolak kelompok lain yang dilakukan oleh Barat tak lebih dari sekedar penipuan. Sebab bagi mereka, siapapun di negeri ini yang mengakui pemerintahan Islam, meyakini undang-undang dasar dan mendukung penuh cita-cita luhur bangsa Iran adalah musuh bagi mereka."

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Pemerintahan Islam ini telah mendulang pengalaman sepanjang tiga puluh tahun dengan kegigihan dan resistensinya. Pukulan telak yang disarangkan bangsa Iran ke muka sejumlah negara Barat ternyata belum menyadarkan mereka. Mereka tetap rakus terhadap negeri dan bangsa ini. Mereka salah dan harus siap membayar kesalahan dengan mahal."

Menyinggung adanya orang bayaran asing di dalam negeri yang ikut menyuarakan propaganda destruktif dan permusuhan terhadap Republik Islam, beliau mengatakan, "Pihak-pihak seperti ini sudah ada sejak dulu. Tetapi hendaknya mereka tahu bahwa bagi musuh kita yang bak serigala buas, mereka hanya akan dimanfaatkan selagi memberi keuntungan dan setelah itu mereka akan dicampakkan."

Rahbar mengingatkan semua kalangan untuk selalu waspada dan mengenal lawan dan kawan dengan benar. Beliau mengungkapkan, "Antek-antek asing di dalam negeri memberikan sinyal-sinyal yang salah kepada musuh, dan musuh kita pun tertipu dengan sinyal-sinyal tersebut. Namun demikian, rakyat dan kalangan elit bangsa ini dari seluruh kubu politik hendaknya waspada jangan sampai salah dalam menentukan mana lawan dan mana kawan. Jangan salah memperlakukan kawan layaknya lawan."[islammuhammadi]

Friday, July 3, 2009

Konspirasi Kematian Neda dan Michael Jackson



Kematian Neda Agha Soltan atau Neda Soltani sampai saat ini mengundang pertanyaan. Minggu lalu kematian Neda tiba-tiba menghiasi setiap Headline hampir situs berita sebelum akhirnya tiba-tiba hilang ditelan ketenaran Jacko si raja pop dunia yang meninggal dunia yang juga meningalkan segudang teka teki. Tak ketinggalan pula situs nasional Indonesia seperti Kompas, Vivanews, MetroTV mengangkat tema kematian Neda Soltani. Dengan latah, nada mencibir sistem wilayatul faqih menghias ulasan mereka. Hampir senada, media nasional Indonesia itu dengan tegas menekankan kepada pembaca untuk ikutan ramai-ramai mendukung perubahan sistem pemerintahan Republik Islam Iran.

Oleh media massa barat aliansi Israel, Neda menjadi simbol perjuangan dalam melawan rezim Mollah di Iran. Di Perancis, Amerika, Belanda dan Jerman hari itu juga di peringati untuk mengenang kepergian jejak sang pahlawan. Nyala lilin dan taburan bunga mengelilingi photo sang pahlawan.

Namun, beberapa hari setelah mereka puas menghias headline dengan kepergian Neda dan setelah puas memojokkan republik Islam Iran dengan cerita dan narasi menyedihkan sekaligus pembohongan publik, kini tiba-tiba kasus Neda menghilang dari pemasok berita. BBC, Reuter, CNN dan media massa barat lainnya asyik menghias headline mereka dengan kematian sang raja pop dunia. Kematian Neda hilang dari peredaran dalam sekejab. Berita kecurangan Ahmadinejad dalam pemilu Iran juga sirna. Sokongan Barat terhadap tiga kandidat kalah juga senyap. Semuanya datang dengan tiba-tiba dan serentak.

Micahel Jackson kini menjadi tokoh utama setiap pemberitaan.

Kronologi Kematian Neda
Seorang sopir taksi yang tidak mau disebutkan namanya bercerita. Sopir taksi ini adalah saksi hidup tragedi kematian Neda yang tidak pernah di jamah oleh BBC, Reuter dan CNN. Dialah yang mengangkut dan memasukkan tubuh Neda yang berlumuran darah kedalam taksinya untuk dibawa ke rumah sakit dari tempat kejadian. Sang sopir kepada IRIB bercerita, "Hari Sabtu, saat itu tepatnya pukul 19:20, saya membawa mobil melewati jalan Salehi ke arah atas. Di depan gang Khasravi, tiba-tiba saya dikejutkan pada kerumunan beberapa warga, karena memang gang tersebut sepi dan jauh dari hiruk pikuk demonstrasi. Saat melewati kerumunan tersebut, saya melihat seorang perempuan terlentang di atas jalan.

Dari mulut dan hidungnya keluar darah. Saat itu, tidak ada pilihan lain dalam benak saya, kecuali turun dari mobil dan menaikkan perempuan malang tersebut ke atas mobil. Saya segera mengarahkan mobil ke arah rumah sakit. Namun sayang ternyata, gang setelahnya gang buntu. Tanpa pkir panjang lagi satu-satunya jalan yang harus di tempuh untuk menyelamatkan perempuan malang ini adalah menurunkannya dan menaikkan mobil lain untuk lebih cepat menuju rumah sakit.
Beberapa orang memindahkan tubuh berlumuran darah itu ke mobil lain.

Adalah Guru musik Neda yang juga tidak disentuh oleh BBC, CNN dan Reuter. Dia adalah saksi hidup kedua dalam kasus Neda. Saat TV Nasional Iran Chanel 1 menayangkan rekaman video kematian Neda, disana terdapat seorang laki-laki tua yang rambutnya sudah memutih karena uban.

Saat ditanya oleh IRIB, lelaki tua yang ternyata adalah guru musik perempuan malang itu menuturkan, "Saat itu, saya melihat ada sebuah mobil peugeot yang berusaha mengangkat tubuh berlumur darah Neda."

Kematian Neda sangat disesalkan. Sebagaimana penyesalan terhadap kematian para Basij, anak kecil beserta ibunya yang tidak tersentuh hiruk pikuk BBC, CNN dan Reuter. Sebagaimana penyesalan terhadap 400 polisi Iran yg terluka diserang para perusuh, penyesalan 2 orang yg luka atau syahid di mesjid Lulagar di kawasan Navvab, yg dibakar oleh perusuh. Mengapa yg disebut pahlawan bila yg tewas dari pihak perusuh, sementara korban tewas di pihak lain tdk disebut pahlawan? Kematian Neda tidak berbeda dengan kematian para Basij, anak kecil beserta ibunya. Sayangnya... lagi-lagi sayangnya kematian mereka yang terkena muntahan timah panas para perusuh tidak berharga dimata media massa barat itu.

Kasus terus bergulir, kini penyelidikan telah dimulai, hasil awal mengatakan ada sejumlah fakta yang mengundang keraguan atas siapa eksekutor kematian Neda. BBC dan media massa Barat menuding Basij si penjahat itu, polisi Iranlah si bajingan itu. Jelas, pemerintah Iran tidak meragukan adanya kematian warganya yang bernama Neda, namun yang diragukan adalah siapakah pelaku penembakan tersebut.

IRIB dalam hal ini adalah pemerintah Iran mempublikasikan rekaman tersebut dengan beberapa catatan sebagaimana yang disiarkan oleh Stasiun Nasional Iran Chanel 1:

1. Rekaman video kematian Neda yang dipublikasikan oleh media-media Barat menunjukkan bahwa Neda sudah disorot dan telah diincar sejak lama. Sebab, rekaman video tersebut menayangkan keberadaan Neda 45 menit sebelum kematiannya. Artinya sebelum kejadian, Neda telah menjadi target pembunuhan. Atau jika saja kita menerima asusmsi bahwa, rekaman tersebut adalah kebetulan dan tanpa disengaja. Namun pertanyaannya adalah kenapa tempat pembunuhan Neda jauh dari tempat kerusuhan. Karena kerusuhan saat itu terjadi di Jalan Azadi. Lagi pula diperkirakan sebagaimana tayangan video tersebut, disana minimal ada dua handycam yang merekam kejadian tersebut. Ini jelas menunjukkan adanya skenario dan program sebelumnya.

2. Basij dan polisi yang merupakan pihak tertuduh dalam kasus ini, saat itu ditempatkan di tempat kerusuhan, bukan wilayah yang jauh dari kerusuhan. Dan juga mereka tidak dipersenjatai. Basij dan polisi hanya membawa pentungan dan gas air mata. Kenyataan ini diperkuat oleh kesaksaian guru musik Neda. Sambil menunjuk tempat kejadian, sang guru mengatakan," Saat itu, di tempat ini suasana tenang dan tidak ada kerusuhan, saat itu memang tempat ini beberapa warga ada yang berkerumun. Saat kami menyeberang dari samping jalan untuk naik mobil, dan ketika sampai di belokan jalan, tiba-tiba terdengar suara tembakan..."

3. Berdasarkan laporan hasil forensik, peluru yang ditembakkan ke Neda sejenis senjata kaliber kecil dari sebuah pistol, dan ditembakkan dari jarak dekat saat Neda berjalan kaki. Dan minimal jarak tembak sekitar 5 sampai 7 meter. Lebih lanjut guru musik Neda mengatakan, "Suara tembakan peluru yang dimuntahkan mirip suara petasan...." Lebih dari itu, sopir taksi juga memberikan kesaksian bahwa saat kejadian, pihaknya tak melihat basij dan polisi di sekitar. Guru musik Neda juga mengatakan, "Saat itu, tidak ada konflik senjata, yakni tidak ada aparat keamanan yang bersiaga di wilayah tersebut. Di sana hanya ada sejumlah warga saat suara peluru terdengar yang kemudian mengenai Neda."

4. Dalam tayangan video dilihatkan bahwa Neda telah ditembak dibagian kepala dari belakang, akibat tembakan itu keluarlah darah segar dari mulut dan hidung Neda.

Karena darah itu keluar dari mulut dan hidung Neda maka, ada beberapa poin yang perlu dipertimbangkan.

1. Senjata yang digunakan adalah senjata genggam kecil sejenis pistol berkaliber kecil, karena disana tidak ditemukan adanya projektil peluru yang menembus tubuh dan kepalanya.

2. Senjata ditembakan dengan jarak sangat dekat, sehingga dipastikan tepat mengenai sasaran, karena dalam suasana yang rusuh [menurut media massa barat, Neda ditembak ditengah-tengah warga sedang demo] hal ini tidak mungkin bisa dilakukan, kalau ini dilakukan dengan senjata genggam, maka kemungkinan akan menimbulkan jatuh korban lebih dari satu dan ini tidak terjadi.

Atau kita ikuti jejak spekulasi media massa barat yang mengatakan Neda ditembak dari jauh. Maka kemungkinan ini akan lebih kecil dengan memperhitungkan beberapa hal:
1. Dengan tembakan jauh -oleh seorang sniper sekalipun- maka diperlukan senjata laras panjang atau minimalnya menengah (semi), yang tentu senjata demikian ini memiliki daya tembak yang lebih kuat. Karena tembakan yang begitu kuat maka akibat yang ditimbulkan adalah akan lebih fatal. Kita asumsikan bahwa penembak menggunakan senjata panjang jenis AK 47atau M 4 misalnya, maka minimal akibat dari tembakan tersebut akan fatal, yakni peluru akan menembus kebagian depan, badan maupun kepala, atau batok kepala Neda akan terkelupas. Namun sebagaimana tergambar dama video hal ini tidak tampak dalam rekaman yang ditayangkan.

Dengan memperhitungkan TKP dalam tayangan video yang disebarkan oleh media massa barat maka akan menutup beberapa kemungkinan:
1. Neda ditembak ditengah-tengah kerusuhan. Lagi pula bukanlah watak orang Iran yang akan membiarkan korban terkelepar sendirian apalagi seorang wanita. Mereka (para demonstran) akan merubung Neda dan menolongnya. Lagi-lagi yang nampak dalam gambar tayangan video tersebut Neda dikerubungi hanya 4 atau 5 orang saja.

2. Penanganan Neda yang hanya ditangani oleh sejumlah kecil orang, dan tempat tertembaknya Neda merupakan gang buntu, maka kemungkinan adanya usaha dengan sengaja untuk membunuh Neda sangat terbuka lebar.

3. Atau Neda memang sengaja dibiarkan mati. Dengan asumsi bahwa Neda akan dijadikan sebagi maskot pahlawan dan simbol penentangan terhadap pemerintahan pilihan rakyat Ahmadinejad dalam kaca mata Barat dan Amerika. Oleh karena itu film Neda sengaja dibuat, dirilis dan disebarkan luaskan keseluruh dunia dengan kesadaran penuh sebagai upaya memojokkan Republik Islam Iran dimata dunia.

Mempertimbangkan poin-poin diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kematian Neda adalah skenario yang sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana di Iran dan memojokkan Republik Islam Iran.

Kini kebenaran terkuak, Republik Islam Iran tetap tegar dengan wilayatul faqihnya. Barat dan Amerika kelimpungan sebab makarnya di Iran terbongkar. Kebohongan beritanya terkuak. Demi menutup malu dan mengubah opini maka Jakco si raja pop dijadikan sebagai tumbal oleh badan Think Thank Amerika dan Barat. Kematian penuh teka teki Micahel Jackson menghias headline surat kabar dan situs mereka. [islammuhammadi/mt]