Contributors

Don't miss
Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Sunday, May 31, 2015

Nisfu Sya’ban, Prolog Hubungan Batin dengan Imam Mahdi


12 Imam ~ Terdapat hari-hari besar Islam yang memiliki peran signifikan dan menentukan dalam kehidupan manusia.
 
Salah satu hari besar Islam tersebut adalah hari kelahiran Imam Mahdi as sebagai sang juru penyelamat umat manusia dari setiap bentuk kezaliman dan kegulitaan. Sang juru penyelamat yang diyakini Syiah ini sudah dilahirkan ke dunia dan memiliki keistimewaan dan kriteria-kriteria khusus.
 
Malam Nisfu Sya’ban menyimpan makrifat dan kecintaan khusus yang sangat mendalam kepada Imam Zaman as. Tentu, pesta hari ulang tahun kelahiran beliau ini jangan sampai hanya terbatas pada pesta fora semata. Semua itu akan menjadi bernilai apabila dibarengi dengan komitmen tanggung jawab atas segala tugas yang kita emban. Tentu, pesta semacam ini bisa menjadi sebuah prolog untuk membangun sebuah hubungan batin dengan beliau.
 
Salah satu tugas penting kita sekarang ini adalah mempersiapkan lahan yang tersedia supaya masyarakat kita lebih mengenal jati diri dan kriteria Imam Mahdi as. Pesta Nisfu Sya’ban akan bernilai bagus apabila disertai dengan pengenalan yang benar terhadap beliau. Mengagungkan syiar-syiar agama membuktikan bahwa kita merasa bahagia dengan kelahiran beliau dan kita juga berharap beliau akan muncul kembali guna menebarkan seluruh keadilan di seantero semesta. Dengan kelahiran beliau, seluruh makhluk yang sedang menunggu kebebasan akan merasa berbahagia.

Sumber : Reportase islam

Wednesday, May 13, 2015

TIDAK MALU, ARRAHMAH.COM KETAHUAN BOHONG LAGI


12 Imam ~ Dalam kunjungannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius.

Hanya dengan modal video yang telah dipenggal dengan durasi 15 detik, redaksi :


merilis berita, “Mut’ah Dini, Kedok Khomaeni Mencabuli Balita” yang diposting selasa [12/5]. Video tersebut diupload sehari sebelumnya oleh Muhammad Abdurrahman Al Amiry [11/5] yang diberi title, “Khaminai Pendeta Syiah Mencabuli Anak Kecil – Biarkan Video yang Berbicara”. 

Ada kesimpangsiuran nama, diberita Arrahmah, ditulis Khomaeni sementara video di youtube ditulis Khaminai. Jika yang dimaksud redaksi Arrahmah dengan Khomaeni itu adalah Imam Khomaeni pendiri Republik Islam Iran yang wafat 3 Juni 1989, maka jelas salah besar. Sebab yang ditampilkan dalam video tersebut adalah Ayatullah Sayyid Ali Khamanei, atau biasa disingkat Imam Ali Khamanei. Muhammad Abdurrahman Al Amiry, mungkin hanya salah ketik saja ketika menulisnya dengan nama Khaminai.

Versi dengan durasi lebih panjang dari video penggalan tersebut, telah diposting oleh Muhammad Jahangir, dengan durasi 11 menit 47 detik pada tanggal 27 Februari 2012 dengan judul berbahasa Persia, “Didar_e Rahbar_e Inqilab ba Khanevadeh Syahid Rezai Nejad” yang artinya, “Pertemuan Pemimpin Besar Revolusi dengan Keluarga Syahid Rezai Nejad.”

Syahid Rezai Nejad atau lengkapnya DR. Dariush Rezai Nejad adalah ilmuan nuklir Iran yang terbunuh oleh aksi teror pada 23 Juli 2011, dalam usia 35 tahun. Laporan dari media pers Iran menyebutkan bahwa Rezai Nejad ditembak lima kali oleh pengendara motor yang tidak dikenal ketika ia bersama istrinya sedang menunggu anak mereka didepan sebuah taman kanak-kanak di Teheran. Dalam serangan tersebut istrinya juga mengalami luka tembak namun nyawanya sempat tertolong. Putrinya Aramita Rezai Nejad [5 tahun], melihat didepan matanya, kedua orangtuanya bersimbah darah. Nyawa pakar nuklir dari Universitas Industri Nasharuddin Thusi Tehran tersebut tidak dapat diselamatkan. Peluru yang ditembakkan teroris menembus leher, tangan dan dadanya.

Iran sendiri menuding dinas rahasia Israel “Mossad” berada dibalik pembunuhan tersebut. Yang menurut pemerintah Iran, AS dan Israel sengaja hendak membunuh para ilmuan Iran yang dicurigai bekerja dalam program pembuatan senjata nuklir. Sementara media Israel menyebutkan, intelijen Israel meyakini Rezai Nejad bertugas membuat mesin pemicu senjata nuklir menyusul kerjasama lembaga riset Rezai Nejad dengan Kementerian Pertahanan Iran.

19 Desember 2011. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengunjungi rumah keluarga almarhum Dr. Dariush Rezai Nejad dan mengucapkan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. Dalam penyampaiannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei berkata, “Hari ini kemajuan ilmu dan tekhnologi Iran menjadi kebanggan bagi dunia Islam sekaligus menjadi ancaman dan kekhawatiran bagi musuh-musuh Islam.”

Dalam kunjungan tersebut, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei juga bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius. 

Berita lengkap mengenai kunjungan Rahbar tersebut dalam bahasa Persia bisa dibaca di link berikut:
http://farsi.khamenei.ir/news-content?id=18692

.
Sementara versi video dengan durasi lebih panjang bisa dilihat disini:



Sunday, April 26, 2015

REVOLUSI AL-HUSEIN: Menjaga Risalah Muhammad [1] (Oleh: Imam Khomeini)


12 Imam ~ Imam Husein as. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan terhadap kedzaliman dan pemerintahan yang tiran. Imam tahu bahwa memilih jalan ini akan mengorbankan keluarga dan para sahabatnya, pun  beliau tahu betul akan pengaruh serta dampak pilihannya itu. Berkat kebangkitan Imam Husein, wajah asli Yazid bin Muawiyah dan orang-orangnya  tersingkap.
Sejak awal, Yazid dan pengikutnya telah menginjak-nginjak nilai-nilai Islam, menyimpan kedengkian dan permusuhan terhadap Islam dan para pemimpin Islam. Di sini, pengorbanan Imam Husein berhasil menghancurkan dinasti Bani Umayyah. Berikutnya, kaum muslimin mulai menyadari betapa besarnya musibah yang menimpa mereka. Musibah inilah yang kemudian menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah.
Imam Husein as. juga mengajarkan kepada kita bahwa inilah jalan yang harus ditempuh oleh para pengikutnya. “Kalian jangan takut karena jumlah kalian sedikit”. Kuantitas  itu tidak akan berpengaruh. Kualitas kesiapan dan jihad lah yang akan menentukan. Mungkin saja jumlah suatu kelompok itu besar, namun mereka kehilangan nilai kualitas. Sebaliknya, ada kelompok yang berjumlah sedikit dan mampu menunjukkan kualitas mereka.            
Pada jaman itu, beberapa saat setelah kesyahidan Imam Husein as, sebagian orang yang jahil mempropagandakan bahwa beliau adalah pemberontak yang melakukan makar terhadap pemerintahan yang berdaulat. Meski begitu, cahaya Ilahilah yang tetap memancar dan menerangi dunia. 
Lalu, apakah tugas ulama, khatib dan lapisan rakyat lainnya di bulan  Muharam yang suci ini?  Imam Husein as. bersama keluarga dan para sahabatnya telah menjelaskan tugas itu kepada kita, yaitu berjuang di tengah medan dan berdakwah di luar medan. Sejalan dengan pengorbanan Imam Husein as. di medan jihad yang bernilai di sisi Allah dan berperan dalam kesuksesan misi beliau, khotbah-khotbah Imam Sajjad as [2] dan Siti Zainab [3] pun mengambil peran dengan nilai yang nyaris sama atau bahkan sebanding dengan pengorbanan Imam Husein as.
Orang-orang suci ini menjelaskan kepada kita bahwa dalam menghadapi kedzaliman, baik laki-laki maupun wanita, tidak boleh ada yang merasa takut. Di hadapan Yazid, Siti Zainab berdiri dengan tegas dan tegar, tetapi  merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan khalayak. Citra  buruk Imam Husein as dan Ahlul Bait yang diupayakan oleh Bani Umayyah menjadi pudar dan hilang berkat pidato-pidato Imam Sajjad as dan Siti Zainab di Syam serta Kufah.           
Saat ini, negara Islam buah dari revolusi Imam Husein as  juga menghadapi masalah serupa. Badan Amnesti Internasional yang lebih tepat disebut sebagai “Badan Pemalsu Internasional“ atau “Badan Pembohong Internasional“, mengeluarkan pernyataan yang memuat tuduhan-tuduhan terhadap Republik Islam Iran, persis dengan tuduhan musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah, keluarga 'Ahlulbayt' dan para pengikutnya di masa-masa awal Islam. Orang akan merasa malu tatkala ia hidup di dunia yang di dalamnya media massa dan organisasi sebesar Badan Amnesti Internasonal itu membual kebohongan. Orang akan menilai sebuah kebejatan ketika ia hidup di jaman yang di dalamnya nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan kekuatan adidaya yang hanya mementingkan materi belaka. Sangat disesalkan bahwa sekarang ini kita dihadapkan pada bencana semacam ini.           
Seberapa besar dan agungnya tujuan seseorang itu, sebesar itu pula kesusahan yang harus ia tanggung. Kita sendiri pun masih belum tepat mengukur seberapa besar kemenangan kita. Kelak, dunia akan mengerti prestasi kemenangan kita ini. Namun begitu, semakin  besar kemenangan ini, sekadar itu pula besarnya musibah dan cobaan kita. Kita tidak boleh lalai, lalu berharap bahwa musuh-musuh kita akan membiarkan kita, tidak lagi berusaha melenyapkan kita.
Perjuangan pengikut Husein saat ini harus seperti perjuangan pada awal revolusi. Tugas para ulama, khatib Jum'at dan imam Jamaah maupun orang-orang yang hendak berbicara dengan masyarakat, ialah menerangkan kepada mereka hakikat dan tujuan perjuangan Imam Husein as. serta apa yang telah dikorbankannya demi perjuangan itu sampai akhir, meski  sebenarnya perjuangan beliau belum berakhir, dan akan  terus berlanjut. 
Kita semua, khususnya para penceramah, harus sadar bahwa kalau bukan karena kebangkitan Imam Husein as, sesungguhnya kita tidak akan menang dalam revolusi. Persatuan rakyat yang merupakan sumber kemenangan (revolusi) kita muncul berkat acara-acara duka memperingati Asyura. Acara-acara ini efektif sebagai lahan dakwah Islam. Imam Husein as, penghulu para syahid kita,  telah  menyiapkan sarana bagi rakyat supaya mereka bisa berkumpul tanpa ada kesulitan. Masjid-masjid menjadi basis perjuangan rakyat. Dari sanalah asas-asas kemenangan Revolusi dirintis dan dibangun.
Selain itu, Imam Husein as. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan di dalam dan luar medan pertempuran; apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berjuang dengan senjata, dan apa yang harus didakwahkan oleh mereka yang berada di garis belakang. Beliau ajarkan bagaimana cara sebuah kelompok yang kecil jumlahnya menghadapi kelompok yang besar jumlahnya. Keluarga beliaupun mengajarkan kepada kita apa yang dilakukan setelah musibah itu terjadi. Apakah kita harus menyerah? Ataukah kita turunkan perlawanan kita? Ataukah kita harus menapaki jejak Siti Zainab as. yang senantiasa tegar di tengah  musibah yang tiada bandingnya itu dan berbicara lantang di hadapan kekufuran dan menyingkapkan kebenaran? Atau seperti Imam Sajjad as. yang dalam keadaan sakitnya tetap melakukan dakwah meneruskan misi ayahnya?
Peran Acara-acara Asyura dalam Kebangkitan Rakyat
Dulu, orang munafik selalu katakan bahwa kita adalah bangsa cengeng, supaya kita meninggalkan majlis-majlis Asyura. Majlis-majlis Asyura ini dibubarkan oleh orang-orang yang justru hadir di dalamnya. Apakah pembubaran ini karena majlis-majlis itu sendiri, atau karena mereka tahu betapa pengaruhnya seperti sekarang ini hingga mereka larang penyelenggaraannya? Masalah pelarangan dan pembubaran ini sama halnya dengan pelarangan memakai serban, karena mereka tahu bahwa serban dan majlis duka ini akan menjadi penjegal  kepentingan dan maksud mereka.
Di bulan Muharam ini, ketika sebuah bangsa berkumpul guna memperingati kesyahidan Imam mereka, jangan kalian kira bahwa mereka datang hanya untuk menangisi Imam Husein as. Beliau sama sekali tidak butuh pada tangisan kita. Tangisan  itu  tidak berpengaruh (untuk pribadi beliau, peny.). Bahwa rahasia majlis-majlis ini menyatukan mereka dan mampu membangun persatuan di antara mereka. Di dua bulan suci ini (Dzulhijjah dan Muharam, pent.), khususnya hari  Asyura, jutaan orang berkumpul dan menyerukan hal yang sama. Dalam bulan Muharam ini, para ulama dan khatib dapat memobilisasi rakyat dan menghimpun mereka untuk satu tujuan. Sisi politis majlis-majlis ini lebih kuat ketimbang sisi-sisi lainnya. Para Imam maksum as. tidak sembarang -waliyadzubillah- menyuruh kita untuk berkabung mengenang musibah mereka. Bukan sebuah omong kosong bahwa kita akan mendapatkan pahala saat kita menangis, membuat orang menangis, atau pura-pura menangis sekalipun, demi memperingati musibah para Imam kita.
Inti masalah Asyura bukan menangis atau pura-pura menangis, tapi  muatan politis yang ada pada majlis-majlis itu. Melalui majlis-majlis ini, para Imam as. hendak menyatukan pengikut-pengikutnya dan menggerakkan mereka untuk bangkit. Kebanyakan perkara dalam Islam bermuatan politis. Perkumpulan-perkumpulan yang sebagiannya diwajibkan atau  di-mustahab-kan, semua itu adalah perkara-perkara politik. Salah satunya ialah haji. Di Mekkah, jutaan muslimin berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah atas mereka. Ini bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Dia mewajibkan haji supaya muslimin berkumpul di satu tempat dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.            
Sayangnya, karena ketidaktahuan kita, umat Islam memang berkumpul di Mekkah, tapi tidak tergerak untuk mendiskusikan masalah-masalah mereka. Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih baik. Alangkah baiknya bila negara-negara muslim itu sedikit mau bersusah payah;  memberangkatkan sebagian rakyatnya untuk ibadah haji hingga mereka bisa berkumpul bersama saudara muslim lainnya. Muatan politis dalam muktamar besar umat Islam di haji adalah mereka saling berkenalan dengan yag lain, mengetahui persoalan masing-masing dan mencoba untuk mencari jalan keluarnya.
Kalaulah umat Islam menunaikan ibadah haji itu sesuai dengan ruhnya, tentu mereka tidak akan menemui berbagai problema seperti sekarang ini. Alangkah baiknya bila negara-negara ini memahami hikmah pertemuan rakyat mereka di Mekkah dan tidak tunduk pada kekuatan-kekuatan besar dunia. Semestinya, mereka paham bahwa memerintah rakyat yang sadar masih lebih baik daripada memerintah rakyat yang tidak tahu apapun. Menanggung musibah karena menentang kediktatoran lebih baik ketimbang hidup senang dalam perbudakan.
Kalau saja mereka sadari hal ini, mereka akan permudah urusan haji bagi rakyat mereka hingga ibadah haji berlangsung lebih baik lagi daripada sekarang. Atau, mereka sendiri yang pergi haji dan duduk bersama pemimpin-pemimpin negara lain guna membicarakan jalan keluar persoalan mereka. Bila hal ini terwujud, niscaya Islam akan menjadi satu kekuatan dunia yang tak tertandingi.
Selain haji, ada hari raya Ied;  satu momentum  lain bagi muslimin untuk berkumpul dan bersatu. Begitu pula halnya shalat Jumat yang di dalamnya dibicarakan berbagai masalah terkini.
Masih ada lagi shalat-shalat Jamaah di masjid yang memungkinkan umat Islam untuk berkumpul. Namun, harus diusahakan supaya masjid tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua, tapi anak-anak muda juga harus bergabung bersama mereka di sana. Kalaulah kita sadari betapa banyak masalah politik yang bisa diselesaikan dalam perkumpulan-perkumpulan seperti ini, kita tidak akan lagi santai seperti sekarang dan membiarkan masjid-masjid itu hanya disesaki orang-orang tua. Bulan-bulan Muharam, Shafar dan Ramadhan menyediakan banyak berkah yang tak terhitung. Berkumpulnya rakyat untuk mengenang Imam Husein as. tetap memiliki berkahnya yang khas, meskipun masalah-masalah politik tidak diungkapkan di dalamnya. 
Upaya-upaya Anti Syiar Islam
Pada jaman ini, kita lebih membutuhkan majlis-majlis ini lebih dari sebelumnya. Jangan sampai kita dihasut oleh sebagian orang agar kita mengeluarkan uang  demi membiayai perang atau korban perang. Memang benar bahwa kita harus memperhatikan para korban perang dan menghargai jerih payah mereka selama perang. Namun, bukan berarti kita harus konsentrasikan diri kita pada hal ini saja dan melalaikan yang lain. Sekali lagi saya tekankan, sekarang kita lebih memerlukan majlis-majlis takziyah (berkabung) lebih dari dahulu. Pawai-pawai Asyura ini telah memiliki warna politis dan hal ini memang benar adanya.
Ketika jutaan orang berkumpul memperingati kesyahidan Imam Husein as. dan di sana para penceramah membicarakan isu-isu terkini, di sinilah  revolusi. Maka  itu, kita  perlu  syiar Ilahi. Sebagian orang sering katakan bahwa karena kita sudah sukses dalam Revolusi, maka itu kita tidak lagi perlu peringati Asyura. Ini sama saja kita tidak perlu shalat lagi setelah kita menang dalam Revolusi. Justru kita lakukan revolusi demi menegakkan shalat dan syiar-syiar Islam lainnya, bukan untuk meruntuhkannya.            
Menjaga Asyura tetap hidup adalah tugas politis-ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban demi Islam berperan besar dalam memajukan Revolusi. Kita sangat berhutang budi pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekedar menangis. Tangisan kita adalah tangisan politis. Air mata kita akan menghancurkan segala hal yang membendung laju Islam. Dahulu pun mereka berkumpul meratapi kekalahan Iran dari Islam. Kalau memang tangisan itu bermasalah, kenapa mereka tangisi kegagalan usaha mereka untuk memenangkan Majusi atas Islam?             
Sebagian orang tidak menginginkan kita menangisi seorang syahid Islam. Mereka mempermasalahkan tangisan kita. Mereka tidak ingin kita menghidupkan sebuah peristiwa yang menghancurkan penguasa jaman itu. Mereka tidak menghendaki kita menjadi seperti para syahid Karbala. Mereka dikerahkan untuk mempropagandakan hal ini dan sayangnya, sebagian orang malah tertipu oleh mereka. Para pemuda hendaknya sadar bahwa semua propaganda anti syiar Islam berasal dari musuh-musuh Islam dan disebarkan oleh antek-antek mereka. Rahasia apa yang ada di balik serban dan majlis duka ini hingga mereka berambisi  melenyapkannya?
Sesungguhnya majlis-majlis ini adalah pemersatu umat. Mereka takut para penceramah bicara di tengah rakyat dan menyatukan mereka menentang penjajahan. Inilah yang mereka takutkan. Sekedar kita hadir untuk menangis tidak membuat mereka kuatir, selama minyak kita dapat mereka ambil lalu kita diam saja.  Yang mereka kuatirkan ialah dampak politis majlis-majlis ini.           
Mereka yang percaya diri  sebagai cendekiawan jangan berpikir bahwa majlis-majkis semacam ini sudah tidak berarti lagi. Sebaliknya, tangisan-tangisan inilah yang melancarkan kerja kita dan menyadarkan rakyat. Kita harus mengambil pelajaran dari pelarangan Ridha Khan terhadap penyelenggaraan majlis Asyura. Ia larang majlis Asyura karena majlis ini bertentangan dengan kepentingannya. Ia menentang ulama karena mereka membahayakannya. Begitu pula halnya ketika ia menentang universitas. Ia baru menyetujui universitas yang seiring dengan kemauannya dan para alumnusnya bekerja untuk kepentingannya.
Di jaman ini, kekuatan besar dunia menentang semua lambang keislaman bangsa kita. Propaganda mereka lebih berbahaya dibanding ancaman perang mereka. Di sini kita harus serius menghadapinya. Bangsa yang siap untuk syahid dan memandang kesyahidan sebagai sebuah kemuliaan, tidak pernah merasa takut perang. Lagi pula, ketika perang terjadi, rakyat kita akan lebih sadar dan  gairah. Kalian lihat, perang ini (perang Iran-Irak, pent.) kembali menghidupkan Iran dan membakar  semangat Revolusi.  Meskipun mulanya kita pikir bahwa perang ini merugikan, tapi ia juga membawa sisi positif.
Memang kita banyak kehilangan anak-anak muda kita dalam perang ini. Namun, demi tegaknya Islam, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang harus dikhawatirkan adalah propaganda-propaganda mereka untuk meliburkan majlis-majlis Asyura.
Rakyat harus bersungguh-sungguh menjaga syiar-syiar Islam, khususnya Asyura ini. Makna sabda Rasulullah saww.  “ Aku bagian dari Husein “ adalah bahwa agamaku tetap hidup karena dia. Semua karunia ini berasal dari syahadah beliau. Bani Umayyah bertekad untuk melenyapkan Islam dari muka bumi dan mendirikan kerajaan Arab. Dengan syahadahnya Imam Husein as, umat Islam sadar bahwa permasalahannya bukan antara Arab dan non-Arab, tapi antara Islam dan kekufuran.
Oleh karena itu, jagalah acara-acara Asyura ini baik-baik. Sesungguhnya acara seperti ini menghidupkan Islam dalam hati kalian. Jagalah shalat Jamaah, shalat Jumat, hari-hari besar Islam dan syiar-syiar di dalamnya. Para ulama dan penceramah harus membimbing rakyat dalam masalah-masalah sosial-politik Islam  dan jangan lupakan majlis-majlis takziyah ini, karena dengannya kita akan tetap hidup.
Islam telah diperjuangkan dengan sepenuh jiwa Rasulullah saww, Keluarga dan para sahabatnya. Ia datang dari sisi Allah dan ini harus kita jaga. Seandainya -wal`iyadzubillah- kemenangan kita berubah menjadi kekalahan lantaran kelalaian kita,  ketahuilah bahwa Islam tidak akan kembali tegak hingga berabad-abad nanti. Ini adalah tugas besar yang harus kita terima. Akhir jalan ini adalah syahadah dan berjumpa dengan Sayyid Al-SyuhadaAl-Husein as serta manusia-manusia seperti beliau. Ini adalah puncak harapan semua pecinta Allah.
Kita dengar bagaimana para pemuda juang kita beribadah dengan khusuk di malam hari dan berjihad penuh semangat di siang hari. Ini adalah suatu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah nikmat ini sebaik-baiknya.
Kalian para ulama yang ada di sini dan di tempat lain bertanggung jawab menjaga dan mensyukuri nikmat Allah ini. Tabligh adalah perwujudan rasa syukur kalian. Kalian harus sampaikan kepada masyarakat asas yang diperjuangkan Imam Husein as, jalan yang ia tempuh dan kemenangan yang ia turunkan untuk Islam. Kalian sampaikan bahwa jalan memperjuangkan Islam adalah apa yang beliau lakukan. Beliau tahu bahwa seorang dzalim yang punya segalanya (dari segi materi) tidak bisa dilawan dengan segelintir orang. Namun begitu, beliau yakin bahwa kesyahidanlah yang akan memenangkan Islam dan memberinya nafas baru. Kematian para syahid mihrab, mulai dari Madani -semoga Allah merahmatinya-4sampai syahid terakhir kita inilah yang akan menjamin kemenangan kita. Kesyahidan ini akan mempermalukan musuh-musuh kalian di hadapan dunia, meski semua dunia memihak musuh kalian. Dengan semua kebohongannya, Badan Amnesti Internasional pun memiliki bukti yang kuat. Bukti kuat mereka adalah pernyataan kaum munafik (Barisan Mujahidin Khalg, peny.) bahwa kita mencintai kesyahidan.           
Ini adalah bulan Muharam dan saatnya kalian harus bertabligh. Hidupkan Muharam ini, karena semua yang kita miliki sekarang berasal dari Muharam dan acara-acara yang diadakan di bulan ini. Kita tablighkan Muharam dan kesyahidan Imam Husein as. Harus kita pahami seberapa besar pengaruh syahadah beliau di dunia sampai sekarang ini. Kalau bukan karena acara-acara duka ini, kita tidak mungkin menang dalam perjuangan kita. Semangat para pejuang kita di medan tempur tetap berkobar karena cinta mereka terhadap Imam Husein as.              
Dalam acara-acara yang diadakan di bulan ini, hendaknya para ulama dan penceramah membicarakan masalah-masalah sosial-politik terkini dan menerangkan tugas rakyat dalam menghadapi musuh. Sampaikan bahwa kita masih berada di tengah jalan, dan insya Allah kita akan sampai di akhir jalan ini. Di atas jalan ini, apabila kita tetap konsisten, kemenangan mutlak akan kita dapatkan, tentunya kalau kita tidak lalai dan lengah. 
Hanya Allah Pelindung Kita
Di awal revolusi, kita serukan slogan “Republik Islam, Merdeka, Tidak Barat-Tidak Timur “.  Kita serukan bahwa kita tidak di bawah Amerika,  tidak pula di bawah Soviet. Kita hanya berada di bawah lindungan Allah dan panji Imam Husein as. Ketika kalian teriakan ini, tentu dunia akan bangkit menentang kalian.
Sejak awal, harus kalian camkan bahwa tatkala Imam Husein as. bangkit menghadapi sekian banyak musuhnya dan syahid di jalan ini, kita pun harus siap untuk menjadi syahid. Sekarangpun, kalian lihat, meski sebagian imam Jum'at kita diteror, mereka yang masih hidup menyuarakan lantang bahwa mereka akan tetap mengemban tugas mereka dan siap untuk mati. Kita semua harus berjiwa demikian.
Apabila kalian bangkit berjuang demi materi, demi ekonomi, demi kesenangan duniawi, tentu akan banyak orang yang tidak merasa puas. Nyatanya, rakyat tidak pernah mengeluh. Hanya mereka yang tidak dapat menikmati kembali kesenangan materi merasa tidak puas terhadap Revolusi. Sebaliknya, mereka yang bangkit demi Islam tidak punya angan-angan buta dan harapan kosong. Rakyat semacam ini tidak akan pernah merasa lelah. Mereka tidak akan mengatakan, karena kita tidak mampu mendapatkan kesenangan duniawi, maka tinggalkan saja Revolusi. Mereka melihat bahwa harapan mereka, yaitu Islam, telah tercapai.
Sekarang, gelombang revolusi kalian telah menyebar ke penjuru dunia. Dahulu, orang Iran identik sebagai budak Amerika. Hari ini, semua orang akan membenarkan bahwa Republik Islam telah keluar sebagai pemenang, dan kemenangannya akan terus berlanjut. 
Optimis terhadap Rahmat Allah! 
Saudara-saudara sekalian, ”Jangan putus asa dari rahmat Allah”5. Dengan inayah Allah, kalian akan menang di dunia ini. Kalian adalah bangsa pejuang. Bangsa yang tidak bisa melakukan apa-apa, niscaya terlantar, menyendiri. Amerika, Soviet atau kekuatan lainnya akan takut pada bangsa seperti ini. Dahulu, mereka perlakukan rakyat seperti domba yang mereka perah dan potong-potong.
Memang benar sebagian orang dapat mengenyangkan perut mereka, tapi bagaimana dengan orang-orang miskin? Kebanyakan rakyat kita berada di bawah garis kemiskinan, tidak mendapat perhatian sama sekali. Sekarang, dalam waktu yang singkat ini, mereka mendapatkan perhatian lebih daripada waktu itu. Namun, hal ini bukan alasan dan tujuan kebangkitan kalian. Ini hanyalah sebuah berkah Revolusi. Yang kalian inginkan ialah Islam. Yang kalian harapkan ialah kemerdekaan dari belenggu Barat dan Timur, dan ini telah kalian capai. Untuk itu, jagalah hasil jerih payah kalian ini.
Sekarang, sebagian orang percaya bahwa kita harus pilih Barat atau Timur. Tapi, rakyat sudah tidak lagi menerima hal ini, karena sejak awal kebangkitan, mereka ingin merdeka dan bebas dari keduanya. Setelah darah anak-anak mereka tumpah di jalan ini, apakah mereka bersedia berbalik ke belakang? Tidak, mereka tidak akan lakukan hal ini dan akan tetap teguh di jalan mereka.
Jangan lupa bahwa kalian telah unjuk kekuatan di  hadapan dunia. Semua dibuat  bingung bagaimana cara menghadang kekuatan kita. Sebelum ini, belum pernah sebuah kelompok kecil mampu memamerkan kekuatannya melawan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Kalian telah hidupkan Islam  dan kalian bertanggung jawab untuk  menjaganya. Mulai dari para marjie (mujtahid) sampai talabeh (pelajar agama) yang baru memulai, semua berkewajiban untuk melindungi Islam. Para penceramah bertanggung jawab untuk membangunkan rakyat melalui khutbah-khutbah mereka. Para ulama dan imam Jamaah hendaknya bergabung bersama rakyat di pos-pos mereka. Alhamdulilah, rakyat pun selalu siap dan kita patut berterima kasih kepada mereka.
Sejujurnya, kita benar-benar berhutang budi kepada mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki dan tidak meminta balasan dari kita, mulai dari wanita-wanita tua yang memberikan apa yang mereka simpan selama hidup, sampai orang-orang yang memecahkan celengan mereka demi Islam, semua turut serta dalam perjuangan.

Saya tidak mampu untuk menghargai mereka sepenuh-penuhnya. Saya  hanya bisa berharap semoga Allah selalu memberikan inayah-Nya kepada mereka. Dan, semoga Allah melindungi kalian semua, sehingga kita dapat menjaga majlis-majlis duka Imam Husein  ini dengan semestinya. Wassalamu`alaikum wa rohmatullah wa barokatuh.[]

[1] Disadur oleh Alam Firdaus, dari  Sahifeh-e  Nur, Intisyarat sahami Chapkhaneh Wizarate Islami, Tehran, 1362 HS, ceramah 25 Mehr 1361 HS/ 29 Dzulhijjah 1402 HQ.  [2] Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as (Putera Imam Husein as , Imam ke-5) dimakamkan di pekuburan Baqi Madinah
[3] Sayyidah Zainab binti Ali bin Abi Thalib (Saudara Imam Husein as)
[4] Syahid Asad Allah Madani, wakil Imam dan imam shalat Jum'at Tabriz yang dibunuh oleh munafiqin di mihrab.[5] Q.S. Yusuf: 87(Dikutip dari situs HPI, Qom, www.islamalternatif.com)

Wednesday, March 4, 2015

Syi'ah_Sunnah : Bab 27 Khalifah ar-Rashidin Menurut Ahl al-Sunnah wal-Jamaah


12 Imam ~ Ini menurut mereka adalah khalifah yang empat yang menaiki kedudukan khalifah selepas wafatnya rasul Allah. ‘Ahl al-sunnah wal-jamaah’ mendakwa utamanya para khalifah ini diatas semua manusia yang lainnya dengan pengecualian rasul didalam susunan turutan kedudukan khalifah mereka. Inilah yang kami dengar sehingga kehari ini. Kami telah mengetahui dari penyelidikan yang lalu bahawa Imam Ali ibn Abu Talib [as] tidak dijumlahkan diantara mereka sebagai seorang khalifah, jauh sekali didalam golongan mereka yang benar; bahkan imam Ahmad ibn Hanbal telah menambahkan nama beliau setelah berlalunya tempuh waktu yang agak lama kedalam senarai tersebut. Sebelum itu, beliau pernah dikutuk dari atas mimbar didalam semua tanah jajahan Islam dan disepanjang pemerintahan Dinasti Umayyah.



Supaya dapat lebih menerangkan lagi perkara ini, dan supaya para pembaca akan merasa lebih tenteram dengan perkara yang sebenar mengenai fakta yang mendukacitakan ini, pemerhatiannya dipelawa kepada yang berikut ini:



Kami telahpun memperkatakan bahawa Abdullah ibn Umar telah dianggap oleh ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ sebagai seorang ahli fiqh yang terkemuka, dan Malik menjadikannya sebagai penguasa utama yang dia bergantung kepadanya didalam bukunya Al-Muwatta. Dia [Abdullah ibn Umar ] juga menjadi sumber bagi ke dua-duanya al-Bukhari dan Muslim didalam penulisan sahih mereka masing-masing. Kesemua penyampai hadith yang lain juga tanpa sebarang pengecualian bergantung kepadanya.



Orang ini amat terkenal, dengan secara terbuka, kebenciannya terhadap Amirul Mukminin Ali ibn Abu Talib. Sejarah memberitahu kita bahawa dia enggan memberikan sumpah setia kepada Ali, bahkan dia bersegera untuk memberikan sumpah setianya kepada yang terkutuk al-Hajjaj, musuh Allah dan rasulNya. [122]



Abdullah ibn Umar telah mendedahkan apa yang tersembunyi didalam dadanya dan telah menyatakan rahsianya yang terpendam apabila dia berkata bahawa dia tidak tahu walaupun satu kebaikkan atau kemuliaan atau kebajikan bagi Ali yang membolehkan dia diletakkan ditempat keempat selepas Uthman ibn Affan.



Kami telahpun mengetahui bahawa dia mengutamakan Abu Bakr dan Umar; dan bagi Ali [as] didalam penilaiannya adalah diantara manusia kebanyakan, jika tidak yang paling rendah diantara mereka. Biar kami berikan kepada pembaca fakta yang lain yang telah dirakamkan oleh penyampai hadith dan penulis sejarah, dan telah dinyatakan secara terbuka kebencian dan permusuhan perwatakkan Ibn Umar terhadap Ali dan kesemua para Imam dari keturunan yang suci dari rasul:



Abdullah ibn Umar telah mengatakan yang berikut apabila cuba untuk menerangkan hadith dari rasul yang mana baginda berkata: ‘Para khalifa selepas saya adalah dua belas; kesemua mereka dari Quraysh’:



Umma ini akan mempunyai dua belas khalifa mereka adalah: Abu Bakr al-Siddeq, Umar al-Farooq, Uthman Thul Noorain, Muawiyah dan anak-anaknya sebagai raja bagi tanah suci [Mekah dan Madina], al-Saffah, Salam, Mansour, Jabir, al-Mahdi, al-Ameen, Ameer al-Asab, mereka adalah dari Banu Ka’b ibn Luayy, dan mereka adalah yang benar dan terkemuka. [123]



Maka bacalah lagi kenyataan ini wahai pembaca, dan bayangkan ahli fiqh yang sedemikian, yang sangat dihormati oleh ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ dan lihatlah bagaimana dia merubahkan fakta dan memusingkannya dari atas kebawah, manjadikan Muawiya dan anaknya Yazid dan begitu juga al-Saffah [panggilan yang bermaksud menumpahkan darah] menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik, dan dengan menambahkannya sebagai terulung! Sesungguhnya dengki dan kejahilan telah membutakan pandangannya sebagaimana iri hati dan permusuhan telah membutakan mindanya [124] sehingga ketahap bahawa dia tidak dapat melihat sebarang kemuliaan dan kebaikkan pada Amirul Mukminin Ali yang mana dia telah lebih mengutamakan Muawiya, seorang yang tidak bermoral, dan anaknya yang tiada beragama, penjenayah dan yang dahagakan darah, Yazid.



Abdullah ibn Umar adalah anak kepada bapanya. Apa saja yang datang dari puncanya tidak memeranjatkan sesiapa, dan setiap belanga menumpahkan segala isinya juga. Bapanya telah menggunakan segala yang mungkin untuk menjauhkan Ali [as] dari kedudukan khalifa, dan untuk menjadikan dia kelihatan tidak mempunyai sebarang keutamaan dimata masyarakat.



Dan kini kita lihat anak Umar ibn al-Khattab [Abdullah ibn Umar] dengan dengki dan bencinya, walaupun Ali telah naik kedudukan khalifa setelah Uthman dibunuh dan selepas menerima sumpah setia dari Muhajirun dan Ansar, enggan untuk memberi sumpah setia kepada Ali dan cuba sedaya upaya untuk memadamkan cahayanya dan membangkitkan semangat manusia untuk menentang beliau supaya dengannya dapat menjatuhkan beliau. Maka dia [Abdullah ibn Umar] terus membuat kenyataan dan mengelirukan [membodohkan] manusia kepada memikirkan bahawa Ali [as] tidak mempunyai kemuliaan, dan bahawa dia adalah sama seperti manusia biasa.



Abdullah ibn Umar berkhidmat kepada dinasti Umaiyyah dan memahkotakan keduanya Muawiyah dan anaknya Yazid dengan mahkota khalifa, membuat dusta dan perubahan terhadap sunnah rasul, mengiktiraf khalifa al-Saffah dan al-Mansour dan kesemuanya pemerintah dari Banu Umaiyyah, mengutamakan mereka diatas ketua bagi umma Muslim dan wali bagi mereka yang beriman menurut dari teks Quran yang suci dan juga sunnah. Bahkan dia tetap tidak mengiktiraf khalifanya Ali walaupun yang sebebnarnya, ianya telah berlaku! Sungguh aneh!!!
[122] Al-Hajjaj ibn yusuf al-Thaqafi adalah seorang yang sangat mashor dengan kecabulannya, fasik, jenayah dan tidak mempunyai kepercayaan. Al-Hakim telah merakamkan didalam muka surat 556, jilid 3, Al-Mustadraknya, dan Ibn Asakir telah juga merakamkan pada muka surat 69 jilid 4 dari bukunya, yang sebenarnya bahawa al-Hajjaj pernah berkata: ‘Ibn Mas’ud mengaku bahawa dia membaca Quran yang diwahyukan oleh Allah, dan Allah tidak lebih dari kotoran bagi Arab.’ Dia juga pernah mengatakan: ‘Takutlah kepada Allah sebanyak mana yang kamu mahu, kerana dengan melakukannya adalah sia-sia, dan dengar serta taat kepada Amirul Mukminin Abd al-Malik ibn Marwan kerana kamu akan mendapat ganjaran yang berlimpah ruah.’ Juga Ibn Aqeel merakamkan pada muka surat 81 dari bukunya Al;-Nasaih al-Kafiya berkata bahawa al-Hajjaj memberi ucapan ketika di Kufa dan merujuk kepada mereka yang menziarahi Pusara rasul di Madina dengan berkata: ‘Semoga mereka binasa! Mereka berkeliling pada kayu dan jasad yang hancur; mengapa mereka tidak berkeliling pada istana Amirul Mukminin Abd al-Malik? Tidakkah mereka ketahui bahawa pengganti sesaorang adalah lebih baik dari pengkhabarannya? 
[123] Ini telah dinyatakan pada muka surat 140 buku al-Suyuti Tarikh al-Khulafa, muka surat 140 Kanz al-Ummal jilid 6 muka surat 67, dan juga didalam buku sejarah Ibn Asakir dan al-Dhahabi. 
[124] Bacalah dan jangan lupakan kenyataan rasul yang al-Bukhari dan Muslim rakamkan dan yang berbunyi: ‘Mencintai Ali ibn Abu Talib adalah petanda iman, dan membencinya adalah petanda munafik,’ dan para munafik semasa zaman rasul pernah dikenali dengan perasaan bencinya terhadap Ali [as]

Tuesday, March 3, 2015

Syi'ah_Sunnah : Bab 26 Khalifah ar-Rashidin Menurut Shiah


12 Imam ~ Mereka adalah Dua belas Imam dari keturunan rasul yang suci, disusun berturutan sebagai berikut:



  1. Yang pertama adalah Amirul Mukminin dan Imam bagi yang wara’, ketua bagi mereka yang elit, ketua para Muslim dan juga penguasa agama, singa kejayaan Allah, Ali ibn Abu Talib [as], pintu bagi pengetahuan yang mencabar minda, menyilaukan hati, dan memberi cahaya kepada intelek, sesaorang yang tanpanya rasul Allah tentu tidak dapat menegakkan asas dan juga agama ini.
  2. Kedua adalah Imam Abu Muhammad al-Hasan ibn Ali [as], ketua remaja disyurga, haruman bunga bagi rasul terhadap umma ini, penyembah Allah yang zuhud, penasihat yang taat.
  3. Ketiga adalah Imam Abu Abdullah al-Husayn ibn Ali [as] ketua remaja disyurga dan haruman bunga bagi rasul Allah terhadap umma ini, ketua bagi syuhadah dan yang telah dibunuh di Karbala dan yang telah berkorban untuk mengembalikan bentuk umma datuknya.
  4. Keempat adalah Imam Ali ibn al-Husayn Zaynul-Abidin [as] ketua bagi kesemua mereka yang sujud kepada Tuhan mereka.
  5. Kelima adalah Imam Muhammad ibn Ali al-Baqir [as] yang menembusi pengetahuannya pada generasi yang dahulu dan yang akhir.
  6. Keenam adalah Imam Ja’far ibn Muhammad al-Sadiq [as] yang mana keserupaannya tiada mata pernah melihat tidak juga pernah didengar oleh sesiapa tidak juga mana-mana minda pernah menyedari yang berkenaan dengan pengetahuan fiqh; tiada yang lebih terpelajar, atau terlebih baik didalam amalan, dari dirinya.
  7. Ketujuh adalah Imam Musa ibn Ja’far al-Kazim [as] keturunan rasul, intipati pada pengetahuan.
  8. Kelapan adalah Imam Ali ibn Musa al-Rida [as] yang telah diberikan kebijaksanaan walaupun semasa kanak-kanak.
  9. Kesembilan adalah Imam Muhammad ibn Ali al-Jawad [as] Imam yang amat pemurah dan pemberi, Imam yang berperibadi cemerlang.
  10. Kesepuluh adalah Imam Ali ibn Muhammad al-Hadi [as] yang telah menerima anugerah Allah, yang menjadi rumah api bagi petunjuk.
  11. Kesebelas adalah Imam al-Hasan ibn Ali al-Askari [as] Imam bagi zuhud dan wara’
  12. Kedua belas Imam Muhammad ibn al-Hasan al-Mahdi [as] yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan persamaan setelah dipenuhi oleh ketidak adilan dan kezaliman, dan anak Mariam [as] akan bersolat dibelakangnya, dan Allah akan menyempurnakan melaluinya cahayaNya, dan melaluinya mereka yang beriman akan merasa senang dan ridha.


Ini adalah para Imam dari shia, dua belas kesemuanya; maka jika sesaorang mengatakan Imami shia atau shia dua belas imam atau shia Ja’fari semuanya adalah sama, dan merekalah yang dikenali seperti itu. Tidak terdapat didalam semua kumpulan Islam yang menerima Imamnya mereka selain dari shia.



Jika kita pelajari ayat-ayat Quran yang diwahyukan didalam menghormati mereka dan yang menerangkan kemuliaan mereka, status mereka yang tinggi, inti kebaikan, jiwa yang murni, kebesaran yang sebenar, kita akan menjumpai ayat seperti yang mengarahkan kita untuk berbaik dengan kerabat rasul, atau kepada yang mana merujuk kepada Allah mensucikan mereka, atau ayat mubahala [cabaran pada melakukan ibtihal_ berdoa_ meminta Allah mengutuk kepada mereka yang dusta] atau ayat yang menunjukkan mereka sebagai yang taat kepada Tuhannya, atau ayat yang mensejahterakan dan memuji mereka….. dsb.



Jika kita mempelajari hadith yang suci, kita akan menjumpai banyak yang mengatakan kemuliaan mereka dan meninggikan kedudukan mereka diatas semua dari umma ini, menunjukkan kepada kelebihan mereka didalam pengetahuan dan juga ma’sum. Jika kita lakukan itu semua, sudah pasti kita akan berserah kepada Imamnya mereka dan menganggapnya sebagai keselamatan bagi umma dari kesesatan dan inilah saja caranya kepada petunjuk. Kita juga akan dapati dengan terang bahawa shia adalah yang berjaya kerana mereka berpegang kepada tali Allah yang kuat; iaitu taat kepada Imam-imam ini dan berpegang kepada ikatan yang tidak akan terbuka, iaitu mencintai mereka. Maka mereka telah menaiki bahtera keselamatan. Mereka akan mendapat keselamatan dari lemas dan terselamat dari kebinasaan.



Adalah disebabkan oleh ini semua maka kami membuat keputusan, dengan penuh keyakinan dan kesedaran, bahawa Imami shia adalah pengikut sunnah rasul Muhammad yang sebenar.



‘Sesungguhnya engkau didalam kelalaian mengenainya, tetapi kini Kami telah menghilangkan penutup bagimu, maka pandangan kamu hari ini telah tajam sesungguhnya’ [50:22]



Sesungguhnya benarlah firman Allah SWT itu.

Saturday, February 28, 2015

Syi'ah_Sunnah : Bab 25 Taqlid dan Maraji' Menurut Ahl al-Sunnah Wal-Jamaah


12 Imam ~ Jika kita selidik tajuk bagi taqlid [ikutan pada agama] dan marji’iyya [penguasa agama tertinggi] menurut ahl al-sunnah wal-jamaah, kita akan menjadi keliru pada mencari pertalian diantara mereka dan rasul Allah. Kita semua mengetahui bahawa ‘ahl al-sunnah wal-jamaah’ merujuk didalam agama mereka pada mengikuti para imam yang empat, iaitu Hanifa, Malik, al-Shafii dan Ibn Hanbal, dan kesemua manusia ini tidak pernah kenal rasul Allah, dan tidak juga mereka ini dari kalangan para sahabat.



Selepas wafatnya rasul, shia membuat taqlid kepada Ali ibn Abu Talib [as] yang jarang berenggang dengan rasul selagi baginda masih hidup. Kemudian selepas syahidnya Ali mereka mengikuti kedua remaja disyurga: Imam al-Hasan dan Imam al-Husayn, cucu rasul Allah. Kemudian mereka mengikuti Imam Ali ibn al-Husayn Zaynul-Abidin kemudian anaknya Imam al-Baqir kemudian cucunya Imam al-Sadiq [as], kesejahteraan bagi mereka semua. Semasa itu, ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ tidak mempunyai sebarang pertalian ideologi tentang kewujudannya. Sejarah tidak memberitahu kita Imam mana yang mereka ikuti, jika ada sekalipun, dan kepada siapa mereka merujuk dengan segala yang berkenaan perundangan syariah agama semenjak dari wafatnya rasul dan sehingga timbulnya mazhab yang empat.



Hanya setelah itu barulah muncul mazhab yang empat didalam arena satu demi satu dan dipisahkan oleh jangka waktu yang tidak menentu, bergantung kepada kehendak pemerintah Abbasid sebagaimana yang kami telah nyatakan dahulu.



Kemudian timbul ikatan yang menyatukan keempat-empat mazhab dibawah panji-panji yang bersinar-sinar yang telah mengalihkan pemikiran manusia, dan yang diberi nama ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ Kesemua mereka yang bermusuhan kepada Ali dan keturunan yang suci rasul dan yang menyokong para khalifa yang bertiga serta semua pemerintah Umayyad dan Abbasid, berkumpul disekeliling panji-panji tersebut. Manusia memeluk mazhab tersebut secara rela ataupun sebaliknya kerana para pemerintah berkerja keras mempromosikannya melalui cara pujukan atau kekerasan terhadap mereka pada mengikutinya, dan manusia umumnya mengikuti kepercayaan pemerintah mereka.



Kemudian kita dapati ‘ahl al-sunnah wal-jamaah’ selepas kematian kesemua imam-imam mereka yang empat, telah menutup pintu ijtihad didepan muka para ulama mereka, melarang mereka dari melakukan apa-apa selain dari mengikuti imam-imam tersebut yang telah pun mati….



Pemerintah tersebut dan mereka yang tertinggi yang telah menutup pintu ijtihad dan tidak membenarkan para ulama untuk mengkritik atau meneliti perkara-perkara agama, telah melakukannya [mengadakan larangan] kerana takut akan terdapat memuncaknya kebebasan intelektual yang akan menyebabkan masalah bagi mereka dan perselisihan yang akan mengancam kepentingan mereka dan kekuasaan mereka.



Maka ‘ahl al-sunnah wal-jamaah’ telah terhad pada mengikuti orang yang telah mati yang mereka tidak pernah lihat dan tidak pernah kenal, dan supaya mereka merasa puas hati dengan pengadilannya, ketakwaannya dan sejauh mana pengetahuannya. Bahkan, mereka hanya dapat memikirkan yang baik sahaja untuk mereka-mereka yang terdahulu, kerana setiap gulungan telah menuliskan dengan panjang lebar mengenai kebaikan mereka yang hanya sekadar khayalan bagi imam-imam mereka yang tertentu. Kebanyakan dari kebaikan ini terbukti hanya sebagai impian, kata-kata kosong atau pembohongan sahaja; setiap parti merasa senang dengan apa yang mereka telah ada.



Jika pengikut ‘ahl al-sunnah wal-jamaah’ yang terpelajar dizaman itu melihat kepada kemuliaan yang diceritakan oleh mereka-mereka yang terdahulu, dan pertentangan yang dirakamkan [dituliskan] mengenai mereka, yang sehinggakan telah menyebabkan sebahagian dari mereka memerangi yang lain, atau memanggilnya fasik…., mereka tentunya akan mempunyai fikiran yang berlainan mengenai imam-imam tersebut, dan mereka tentu telah mendapat petunjuk.



Bagaimana Muslim yang mempunyai fikiran, pada masa dan zaman ini, mengikuti sesaorang yang tidak mengetahui apa-apa mengenai isu dizaman moden, tidak juga dia boleh memberikan apa-apa penyelesaian bagi mereka terhadap permasalahan mereka? Pastinya Malik dan Abu Hanifa dan yang lain-lainnya akan melepaskan diri mereka dari ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ pada hari pengadilan dan berkata: ‘Tuhanku janganlah menyiksa kami disebabkan oleh manusia-manusia ini yang kami tidak pernah kenal dan mereka tidak kenal pula kepada kami, dan yang kami tidak pernah, walaupun satu hari, mengatakan bahawa mereka perlu mengikuti kami.’



Saya tidak tahu apa pula jawapan ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ apabila Tuhan bagi alam ini bertanya kepada mereka mengenai Dua Perkara yang Berat. Dia kemudian akan membawa rasul Allah untuk menjadi saksi terhadap mereka, dan mereka sudah pasti tidak dapat menolak keterangan baginda walaupun jika mereka memberi alasan bahawa mereka taat kepada ketua dan pembesar yang mulia.



Jika Dia bertanya kepada mereka: ‘Adakah kamu dapati didalam kitab Ku, atau didalam sunnah rasul Ku, sebarang perjanjian atau persetujuan atau hujah yang memberi mandat kepada kamu untuk mengikuti mazhab yang empat ini?’ Apakah dia jawapan mereka? Jawapan bagi soalan telah diketahui umum, dan tidak memerlukan kepada pengetahuan yang banyak: Tidak terdapat didalam kitab Allah mahupun didalam sunnah rasul yang mengandungi apa-apa yang sedemikian, bahkan kitab Allah dan sunnah pesuruh nya mengandungi arahan yang nyata untuk berpegang teguh kepada keturunan yang suci dan jangan tertinggal dibelakang mereka.



Dan mungkin mereka akan berkata: ‘Tuhan ku kami telah melihat dan mendengar, maka hantarlah kami kembali supaya kami dapat melakukan kebajikan; sesungguhnya kami sekarang telah yakin [32:12], dan jawapan yang pastinya adalah: ‘Tidak! itu hanya satu ucapan yang kamu ucapkan.’



Dan rasul akan berkata: ‘Tuhan ku, umma ku telah meninggalkan Quran ini, kerana aku telah mengarahkan mereka untuk mengikuti keturunan ku selepas aku dan telah menyampaikan kepada mereka segala apa yang Engkau arahkan kepada ku untuk disampaikan, iaitu, cintailah kerabatku, tetapi mereka menentang perjanjian ku dan memutuskan pertalian dengan keturunan ku; bahkan mereka membunuh anak-anak ku dan membenarkan tempat suciku dicemari; maka Tuhanku! Janganlah berikan kepada mereka syafaat ku.’



Dan pada hari apabila yang zalim akan mengigit tangan mereka dan berkata: ‘O hanya jika aku telah mengambil jalan bersama dengan rasul! O malang bagi ku! Jika hanya aku tidak mengambil sipolan dan sipolan sebagai kawan! Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah ianya sampai kepada ku, dan syaitan tidak pernah membantu manusia. Dan rasul berkata: ‘Tuhan ku! Sesungguhnya umma ku telah menjadikan Quran ini sesuatu yang dilupakan. Dan makanya telah Kami jadikan untuk setiap rasul musuh dari mereka yang melakukan dosa, dan mencukupilah tuhan ku sebagai petunjuk dan yang memberi pertolongan.’ [25: 27 – 31]

Friday, February 27, 2015

Syi'ah_Sunnah : Bab 24 Taqlid dan Maraji' Menurut Shiah


12 Imam ~ Setiap Muslim yang dewasa, selagi dia bukan seorang mujtahid, iaitu, sesaorang yang mampu mendapatkan perundangan agama dari kitab Allah dan sunnah, adalah wajib untuk mengikuti penguasa agama yang mempunyai pada dirinya pengetahuan, adil, wara’, zuhud dan takut kepada Allah yang menepati dengan ayat yang berbunyi, ‘Maka tanyalah kepada pengikut yang memberi peringatan jika kamu tidak mengetahui’ [16:43]



Jika kita selidiki perkara ini, kita akan dapati Imami shia telah mengikuti turutan kejadian tersebut berterusan tanpa sebarang gangguan didalam pertalian maraji’ [penguasa agama] mereka, semenjak dari wafatnya rasul Allah sehingga kehari ini.



Shia terus mengikuti Imam yang dua belas dari ahl al-bayt [as]. Para Imam ini hadir berterusan selama lebih dari tiga abad tiada putus, dan tanpa ada diantara mereka yang bertentangan dengan yang lain didalam apa saja yang diperkatakan. Ini disebabkan kerana teks yang berkaitan dengan syariah diambil dari kitab Allah dan juga sunnah. Ini sajalah yang menjadi rujukan mereka. Mereka tidak pernah mengikuti kias ataupun pandangan peribadi mereka. Jika mereka telah melakukan itu, perselisihan diantara mereka akan diketahui oleh semua pihak sebagaimana kesnya dengan pengikut ‘ahl al-sunna wal-jamaa.’



Kami membuat kesimpulan dari yang diatas bahawa mana-mana mazhab ahl al-sunna wal-jamaa sama ada ianya Hanafi, Maliki, Shafii atau Hanbali, adalah berdasarkan pada pandangan seorang yang telah jauh dari zaman dimana wahyu telah turunkan; mereka tidak punya pertalian terus dengan rasul Allah sama sekali.



Dan bagi mazhab Imami shia, ianya berturutan dari dua belas Imam yang dari keturunan rasul: sianak menyebutkan dari bapanya dan begitulah seterusnya. Seorang darinya, iaitu Imam Ja’far al-Sadiq, berkata: ‘Hadith yang saya sampaikan adalah dari ayah dan datuk saya, dan hadith datuk saya adalah hadith Amirul Mukminin Ali ibn Abu Talib yang menyebutnya dari pesuruh Allah, dan hadith pesuruh Allah adalah dari Jibril [as], yang mana adalah kata-kata yang Maha Agung.’



‘Jika ianya bukan dari sesiapa selain dari Allah, mereka akan dapati banyak perselisihan didalamnya…’ [4:82]



Kemudian datang masa ghaib bagi Imam yang ma’sum. Masa ini memerlukan manusia pada mengikuti ulama faqih diantara mereka yang mempunyai didalam diri mereka syarat-syarat yang dinyatakan diatas.



Kemudian pertalian para mujtahid faqih bermula sejak masa itu, dan ianya telah berterusan sehingga kehari ini tanpa gangguan. Semasa dikala itu, satu atau lebih marji’ akan naik ketahap kecemerlangan diantara umma yang akan di ikuti oleh shia didalam amalan mereka. Ini dilakukan dengan menurut pada buku arahan dari para ulama [risalas] yang mana setiap marji’ hasilkan dari kitab Allah dan juga sunnah tanpa menyatakan pandangan peribadi melainkan didalam rujukan kepada isu kemajuan teknologi sains yang moden seperti pemindahan jantung atau pembedahan organ, permainan beradas, urusniaga bank, dsb.



Seorang mujtahid tertentu mungkin dikenali dengan kelebihan yang dimiliki diatas semua yang lain melalui darjah pengetahuannya. Shia merujuk kepada mujtahid yang demikian sebagai al-Marji al-a’la, penguasa agama yang tertinggi, atau ketua mazhab atau al-hawza al-ilmiyya, jenis kumpulan terpelajar universiti yang tertinggi. Ini membolehkannya untuk mendapat pandangan dan kehormatan dari penguasa yang lain. Disepanjang abad, shia mengikuti ahli faqih dizamannya yang melalui apa juga masalah yang mereka lalui, dan mengambil tahu apa saja mengenai semuanya, maka mereka bertanya kepadanya dan dia memberikan jawapannya.



Maka shia pada segala zaman telah mengekalkan pada dua punca asas bagi syariah Islam: kitab Allah dan sunnah rasul, sebagai tambahan kepada teks yang disampaikan oleh Imam yang dua belas dari keturunan rasul yang suci. Makanya ulama mereka tidak merasakan perlu sama sekali untuk bergantung kepada kias, atau untuk menyatakan pandangan sendiri, kerana shia telah bersusah payah untuk merakamkan dan menjaga sunnah rasul semenjak dari masa Ali ibn Abu Talib dan akan berterusan sehingga kehari pengadilan. Para Imam dari keturunannya telah mewarisi yang sama, anak dari bapa, dan seterusnya, menghargai teks yang demikian sebagaimana manusia menghargai emas dan perak.



Kami telahpun menyebutkan kenyataan shuhada Ayatullah Muhammad Baqir al-Sadr yang dia telah rakamkan didalam risalanya sendiri yang menunjukkan bahawa dia tidak bergantung melainkan kepada Quran yang suci dan sunnah rasul. Menyata shuhada al-Sadr adalah sebagai contoh; kesemua penguasa shia tanpa sebarang pengecualian telah melakukan yang sama.



Penyelidikan yang ringkas ini mengenai isu ikutan agama terhadap shia dan penguasa agama telah menjadikan nyata kepada kami bahawa Imami shia lah yang telah mengikuti Quran yang suci dan sunnah rasul sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ali, pintu bagi pengetahuan rasul, dan ulama yang mendapat petunjuk dari Allah dan penasihat bagi umma selepas rasul dan yang mengikut Quran yang suci telah dijadikan dari ruh rasul [121]



Maka sesiapa datang kepada kota dan memasukinya melalui pintu akan sampai kepada pancutan air; dia akan mengambil sehingga penuh [puas] dan akan merasa segar sepenuhnya. Dia juga akan berpegang teguh pada ikatan yang tidak akan terbuka kerana Allah [awj] telah berkata: ‘Masuklah kedalam rumah melalui pintunya…’ [2:189] Sesiapa yang memasuki kedalam rumah melalui yang lain dari pintunya akan dikatakan sebagai pencuri dan tidak akan dapat memasukinya, tidak juga dia mengetahui akan sunnah rasul, dan Allah sesungguhnya akan menangkapnya dan menghukumnya kerana telah menceroboh.

[121] Ini adalah rujukan kepada ayat yang berbunyi: ‘Katakan: Marilah kita panggil anak-anak kita dan anak-anak kamu, dan perempuan-perempuan kita dan perempuan-perempuan kamu dan diri kami, dan diri kamu, kemudian bersungguh-sungguh berdoa dan memohon kepada Allah untuk mengutuk mereka yang dusta.’

Tuesday, February 24, 2015

Syi'ah_Sunnah : Bab 23 Komen yang Perlu Untuk Menyiapkan Penyelidikan


12 Imam ~ Kami perlu menunjukkan disini kepada fakta bahawa shia selalu menekankan bahawa punca bagi syariah hendaklah dari: kitab Allah dan sunnah dari rasulNya, tanpa sebarang tambahan kepadanya disebabkan oleh keyakinan mereka bahawa terdapat teks yang mencukupi bersama para Imam mereka yang berkaitan dengan segala permasalahan yang mana manusia mencari penyelesaian kepadanya.



Sesaorang mungkin mendapatinya aneh, mungkin juga mustahil, bahawa Imam dari ahl al-bayt mempunyai teks yang memenuhi kesemua kehendak manusia disepanjang abad sehingga kewaktu yang ditentukan. Supaya dapat menjadikan perkara ini jelas kepada pembaca, kami perlu menunjukkan kepada yang berikutnya:



Jika seorang Muslim yakin bahawa Allah [awj] telah menghantar kepada Muhammad suatu sistem perundangan yang akan menyempurnakan segala sistem-sistem perundangan yang terdahulunya dan melengkapkannya supaya dapat memenuhi keperluan perjalanan manusia diatas muka bumi ini supaya dapat bersedia untuk kehidupan yang abadi di hari kemudian.



Dialah yang menghantar PesuruhNya dengan petunjuk dan agama yang benar supaya dapat, memenangkannya diatas agama-agama yang lain. [9:33]



…..dan jika Muslim yakin bahawa Allah [awj] menghendaki manusia supaya berserah kepada arahanNya mengenai segala yang manusia perkatakan dan lakukan, dan untuk membiarkanNya berurusan dengan mereka sebagaimana yang dia kehendaki,



Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah adalah Islam [3:19]



Sesiapa memilih agama yang lain dari Islam, ianya tidak akan diterima darinya. [3:85]



…..dan jika beginilah halnya, maka arahan Allah pastinya cukup dan sempurna, meliputi segala yang diperlukan oleh manusia yang didalam perjalan yang sukar ini untuk mengatasi segala rintangan dan berdiri teguh berhadapan dengan persengketaan sehingga dia sampai kepada matlamat yang ditujuinya. Untuk menyatakan fakta ini, Dia [awj] telah berkata: ‘Kami tidak meninggalkan apa-apa pun didalam kitab [6:38]



Berasaskan dari ayat ini, tidak ada yang tertinggal dari kitab Allah, [awj], bahkan manusia disebabkan oleh pemikirannya yang terhad, tidak dapat memahami semua perkara yang Allah, [awj] telah nyatakan didalam kitabNya disebabkan oleh kebijaksanaanNya yang agung dan hanya akan diketahui oleh mereka yang diberikan pengetahuan baginya. Sebagai contoh, Allah [awj] telah berkata: ‘Tidak ada satu bendapun yang tidak membesarkanNya dengan pujian, tetapi kamu tidak memahaminya [cara mana] ianya telah membesarkanNya. [17:44]



Rangkap ‘Tidak terdapat satu perkara pun’ tidak mengecualikan apa-apa sama sekali dan ia sebagai petunjuk bahawa sesungguhnya manusia, binatang dan bahkan barang-barang mati meraikan akan sanjungan terhadap Allah. Manusia mungkin mengetahui bagaimana binatang dan benda-benda hidup, termasuk tumbuh-tumbuhan meraikan akan sanjungan terhadap yang Menjadikan, tetapi fikirannya tidak dapat menerima bagaimana batu, sebagai contoh, boleh juga melakukan yang sedemikian, bahkan yang Maha Perkasa telahpun berkata: ‘Sesungguhnya kami jadikan gunung-gunung menyatakan kebesaran [Allah] bersama-sama dengannya dipetang hari dan diketika terbit matahari.’ [38:18]



Jika kita terima semua yang diatas dan percaya kepadanya, kita terpaksa menerima dan percaya bahawa kitab Allah menggandungi semua perundangan yang diperlukan oleh manusia sehingga kehari pengadilan, tetapi kita tidak menyedarinya melainkan apabila kita merujuk kepada dia yang mana kitab ini diwahyukan dan yang memahami semua yang dimaksudkan didalamnya, iaitu pesuruh Allah. Allah [awj] telah berkata: ‘Kami telah wahyukan kitab ini kepada mu dengan jelas menerangkan segalanya dan memberi petunjuk, ampunan, dan khabar gembira bagi mereka yang menyerah.’ [16:89]



Jika kita percaya bahawa Allah [awj] telah menerangkan segala-galanya untuk pesuruhNya supaya dia boleh menerangkan kepada manusia apa yang telah diwahyukan kepada mereka, maka kita hendaklah percaya bahawa pesuruh Allah telah menerangkan segalanya, tidak meninggalkan apa-apa yang diperlukan oleh manusia sehingga kehari pengadilan tanpa memberi sebarang perundangan dari pandangannya.



Jika penerangan yang jelas itu tidak sampai kepada kita, atau jika kita tidak tahu mengenainya, maka ianya adalah hasil dari kekurangan kita, yang cuai dan jahil, atau ianya adalah hasil dari kekurangan pada cara yang menghubungkan kita kepadanya, atau ini adalah hasil dari kejahilan para sahabat dan kurangnya kesedaran mereka pada apa yang baginda telah terangkan.

Tetapi Allah [awj] terlalu bijak untuk mengabaikan fakta ini bahawa semua ini adalah suatu kemungkinan atau pun kebenaran, maka Dia tidak membiarkan syariahNya menanggong kerugian; makanya, Dia memilih diantara hamba-hambaNya Imam yang tertentu yang dibenarkan untuk mewarisi pengetahuan kitabNya dan keupayaan untuk menerangkan kepada yang lain supaya manusia tidak dapat berhujah terhadapNya [Allah]; Dia telah berkata: ‘Kemudian kami berikan kitab sebagai warisan kepada mereka yang kami pilih dari hamba Kami.’ [35:32]



Pesuruh Allah sebenarnya telah menerangkan kepada manusia segalanya yang mereka perlukan dan telah memilih Ali untuk menjadi penggantinya yang baginda telah diajari kepadanya semua yang akan diperlukan oleh manusia selepas pemergiannya sehinggalah kewaktu yang telah ditetapkan, disebabkan oleh kelebihan dan kemuliaan yang Ali miliki diatas segala para sahabat yang lain: kepintaran yang tajam, cepat memahami, daya ingatan yang kuat, pendengaran yang tajam pada apa yang didengarnya. Maka rasul telah mengajarkan segala-galanya yang baginda ketahui dan juga telah memandukan umma kepadanya, memberitahukan kepada mereka bahawa Ali adalah pintu dari mana pengetahuan baginda boleh didapati.



Jika sesaorang ada berkata bahawa pesuruh Allah telah dihantarkan oleh Allah untuk semua makhluk, maka dia tidak mempunyai hak untuk memilih sesaorang yang tertentu untuk diajarinya sedang mengabaikan semua yang lain, kami akan katakan bahawa rasul tidak ada kena mengena dengan itu semua; bahkan dia adalah pesuruh Allah yang menerima dan melaksanakan segala yang diarahkan oleh Tuhannya. Allah yang mengarahkan dia untuk melakukannya. Islam adalah agama perpaduan dan berasaskan kepada penyatuan mengenai apa-apa pun juga; maka manusia perlulah bersatu dan dikumpulkan dibawah satu pemimpin. Ini adalah suatu perkara yang mudah dan yang diterima akal dan telah disebarkan oleh kitab Allah dan diperjelaskan oleh alasan dan sentimen. Allah [awj] telah berkata: '‘Jika terdapat banyak tuhan didalamnya, sudah pasti mereka didalam keadaan yang tidak terurus..’ [21:22] dan juga: ‘Tidak pernah ada bersama Dia tuhan yang lain: didalam hal itu, pastinya setiap tuhan telah mengambil apa yang telah dijadikannya, dan sebahagian mereka tentu telah menguasai yang lain..’ [23:91].



Begitu juga, jika Allah telah menghantar dua pesuruh serentak, manusia tentu telah terbahagi kepada dua umma. Dua parti, satu menentang yang lain akan kesudahannya. Allah [awj] telah berkata: ‘Dan tidak terdapat satu umma melainkan bahawa seorang peringatan telah ada diantara mereka.. [35:24]. Itulah makanya setiap rasul telah meninggalkan dibelakangnya seorang pengganti diantara manusia dan ummanya untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan.



Ini demi nyawaku adalah perkara yang wajar; semua manusia mengetahuinya sama ada yang terpelajar mahupun yang tidak, yang beriman dan juga yang tidak. Tidakkah kamu melihat setiap kaum, parti atau negara hanya memerlukan kepada satu presiden untuk mengetuai dan memandunya, dan dua presiden tidak dibolehkan serentak?



Disebabkan oleh semua yang diatas, Allah [awj], telah memilih diantara para Malaikat yang akan membawa pengkhabarannya dan begitu juga dari manusia, memberinya penghormatan untuk memikul tanggong jawab memandu hamba-hambaNya kepadaNya, menjadikan mereka para Imam memberi petunjuk kepada yang lain menurut arahan dariNya. Allah telah berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan Nuh dan keturunan Ibrahim dan juga keturunan Imran keatas umma ini..’ [3:33] Para Imam yang telah dipilih Allah untuk menyelesaikan pengkhabaranNya yang berserta dengan Muhammad adalah Imam petunjuk dari keturunan rasul, dan mereka semua adalah keturunan dari Ibrahim, satu keturunan turun dari yang satu, dan merekalah yang dimaksudkan baginda apabila merujuk dan berkata: ‘Para khalifa selepas saya adalah dua belas: kesemuanya mereka adalah dari Quraysh.’ [120]



Pada setiap zaman dan masa ada seorang Imam, maka ‘Barangsiapa mati dengan tidak mengetahui siapakah Imam bagi masanya adalah matinya mati jahiliah,’ sebagaimana hadith yang lain katakan. Apabila Allah [awj] memilih seorang Imam, Dia telah mensucikannya dan melindunginya dari dosa dan kesalahan dan juga mengajarinya; Dia [awj] pastinya tidak akan menganugerahkan kebijaksanaan melainkan keatas mereka yang berhak, patut dan wajar untuknya.



Jika kita kembali kepada asas tajuk perkara, iaitu para Imam yang mengetahui semua yang diperlukan oleh manusia pada perundangan syariah daripada teks yang terdapat dari kitab Allah dan sunnah, dan yang sesuai untuk kemajuan manusia sehingga kewaktu yang ditetapkan, kita tidak akan jumpa sesiapa didalam umma Islam ini yang mengaku, dialah orangnya, melainkan para Imam ahl al-bayt yang kerap mengatakan yang sedemikian, mengatakan bahawa bersama mereka adalah saheefa jami’ah yang telah disebutkan oleh rasul Allah dan dituliskan oleh Ali ibn Abu Talib, dan bahawa ianya menggandungi segalanya yang diperlukan oleh manusia sehingga kehari pengadilan, termasuk hukuman kerana mencalarkan [sedikit] pipi sesaorang. Kami telahpun menyatakan mengenai saheefa jami’a ini yang kerap dibawa oleh Ali bersamanya dan yang mana telah dinyatakan oleh al-Bukhari dan Muslim, didalam sahih masing-masing, dan tidak seorang Muslim pun yang boleh mengatakan bahawa ianya tidak benar.



Berasaskan kepada yang diatas, shia yang menghadkan ketaatan mereka kepada para Imam ahl al-bayt selalu mengeluarkan perundangan agama mereka menurut teks Quran yang suci dan sunnah rasul tanpa mengalih kepada punca-punca yang lain, sekurang-kurangnya ketika tiga generasi Imam yang dua belas. Tetapi bagi ahl al-sunna wal-jamaa’ mereka terpaksa menggunakan ijtihad dan kias dan yang lainnya kerana mereka telah kehilangan hadith-hadith tersebut dan kerana kejahilan para imam mereka semenjak dari era khalifa pertama mereka lagi.



Jika khalifa mereka dengan sengaja telah membakar hadith-hadith rasul dan melarang penyebaran dan penghebahannya, dan jika ketua mereka yang paling utama [Umar] telah mengatakan, ‘Kitab Allah mencukupi bagi kami,’ dengan mengenepikan sunnah rasul, maka biasanya [padahnya] mereka telah kekurangan teks yang menerangkan perundangan yang terdapat didalam Quran yang suci. Kita semua tahu bahawa perundangan yang jelas didalam Quran yang suci adalah sedikit. Kebanyakkanya, secara am kita katakan memerlukan kepada penerangan yang diperlukan olehnya dari rasul. Inilah sebabnya kita membaca ayat yang berikut didalam Quran yang suci: ‘Dan kami telah mewahyukan kepada kamu peringatan [Quran] supaya kamu dapat menerangkan kepada manusia apa yang telah diwahyukan kepada mereka..’ [16:44]. Kerana tiang-tiang ‘ahl al-sunna wal-jamaa’ telah membakar sunnah, yang menerangkan Quran yang suci, makanya mereka telah kehilangan teks yang menerangkan Quran dan bahkan yang menerangkan sunnah itu sendiri, mereka tidak punya pilihan, kerana keadaannya adalah yang sedemikian, melainkan untuk menggunakan pandangan peribadi, kias, dan berunding dengan para ulama mereka untuk memilih apa yang mereka suka, dan apa yang melayani kepentingan mereka diketika itu. Maka adalah wajar bagi mereka memerlukan kepada semuanya kerana ketiadaan teks yang diperlukan; mereka telah menggunakan segala macam cara disebabkan hanya untuk memuaskan keinginan mereka yang dahsyat.

[120] Al-Bukhari, sahih jilid 8 muka surat127. Muslim sahih jilid 6 muka surat 3. Menurut dari beberapa cerita dari hadith yang sama, mereka adalah dari keturunan Hashim selain dari Quraysh, tetapi mereka masih lagi keturunan Ibrahim sebagaimana yang diketahui oleh semua.