12 Imam ~ Imam Husein as. telah
mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan terhadap kedzaliman dan
pemerintahan yang tiran. Imam tahu bahwa memilih jalan ini akan mengorbankan
keluarga dan para sahabatnya, pun beliau tahu betul akan pengaruh serta
dampak pilihannya itu. Berkat kebangkitan Imam Husein, wajah asli Yazid bin
Muawiyah dan orang-orangnya tersingkap.
Sejak awal, Yazid dan
pengikutnya telah menginjak-nginjak nilai-nilai Islam, menyimpan kedengkian dan
permusuhan terhadap Islam dan para pemimpin Islam. Di sini, pengorbanan Imam
Husein berhasil menghancurkan dinasti Bani Umayyah. Berikutnya, kaum muslimin
mulai menyadari betapa besarnya musibah yang menimpa mereka. Musibah inilah
yang kemudian menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah.
Imam Husein as. juga
mengajarkan kepada kita bahwa inilah jalan yang harus ditempuh oleh para
pengikutnya. “Kalian jangan takut karena jumlah kalian sedikit”.
Kuantitas itu tidak akan berpengaruh. Kualitas kesiapan dan jihad lah
yang akan menentukan. Mungkin saja jumlah suatu kelompok itu besar, namun
mereka kehilangan nilai kualitas. Sebaliknya, ada kelompok yang berjumlah
sedikit dan mampu menunjukkan kualitas mereka.
Pada jaman itu, beberapa
saat setelah kesyahidan Imam Husein as, sebagian orang yang jahil
mempropagandakan bahwa beliau adalah pemberontak yang melakukan makar terhadap
pemerintahan yang berdaulat. Meski begitu, cahaya Ilahilah yang tetap memancar
dan menerangi dunia.
Lalu, apakah tugas
ulama, khatib dan lapisan rakyat lainnya di bulan Muharam yang suci
ini? Imam Husein as. bersama keluarga dan para sahabatnya telah
menjelaskan tugas itu kepada kita, yaitu berjuang di tengah medan dan berdakwah
di luar medan. Sejalan dengan pengorbanan Imam Husein as. di medan jihad yang
bernilai di sisi Allah dan berperan dalam kesuksesan misi beliau,
khotbah-khotbah Imam Sajjad as dan Siti
Zainab pun mengambil peran dengan nilai yang nyaris sama atau
bahkan sebanding dengan pengorbanan Imam Husein as.
Orang-orang suci ini
menjelaskan kepada kita bahwa dalam menghadapi kedzaliman, baik laki-laki
maupun wanita, tidak boleh ada yang merasa takut. Di hadapan Yazid, Siti Zainab
berdiri dengan tegas dan tegar, tetapi merendahkan diri sedemikian rupa
di hadapan khalayak. Citra buruk Imam Husein as dan Ahlul Bait yang
diupayakan oleh Bani Umayyah menjadi pudar dan hilang berkat pidato-pidato Imam
Sajjad as dan Siti Zainab di Syam serta Kufah.
Saat ini, negara Islam
buah dari revolusi Imam Husein as juga menghadapi masalah serupa. Badan
Amnesti Internasional yang lebih tepat disebut sebagai “Badan Pemalsu
Internasional“ atau “Badan Pembohong Internasional“, mengeluarkan pernyataan
yang memuat tuduhan-tuduhan terhadap Republik Islam Iran, persis dengan tuduhan
musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah, keluarga 'Ahlulbayt' dan para
pengikutnya di masa-masa awal Islam. Orang akan merasa malu tatkala ia hidup di
dunia yang di dalamnya media massa dan organisasi sebesar Badan Amnesti
Internasonal itu membual kebohongan. Orang akan menilai sebuah kebejatan ketika
ia hidup di jaman yang di dalamnya nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi
kepentingan kekuatan adidaya yang hanya mementingkan materi belaka. Sangat
disesalkan bahwa sekarang ini kita dihadapkan pada bencana semacam
ini.
Seberapa
besar dan agungnya tujuan seseorang itu, sebesar itu pula kesusahan yang harus
ia tanggung. Kita sendiri pun masih belum tepat mengukur
seberapa besar kemenangan kita. Kelak, dunia akan mengerti prestasi kemenangan
kita ini. Namun begitu, semakin
besar kemenangan ini, sekadar itu pula besarnya musibah dan cobaan kita.
Kita tidak boleh lalai, lalu berharap bahwa musuh-musuh kita akan membiarkan
kita, tidak lagi berusaha melenyapkan kita.
Perjuangan pengikut
Husein saat ini harus seperti perjuangan pada awal revolusi. Tugas para ulama,
khatib Jum'at dan imam Jamaah maupun orang-orang yang hendak berbicara dengan
masyarakat, ialah menerangkan kepada mereka hakikat dan tujuan perjuangan Imam Husein
as. serta apa yang telah dikorbankannya demi perjuangan itu sampai akhir,
meski sebenarnya perjuangan beliau belum berakhir, dan akan terus
berlanjut.
Kita semua, khususnya
para penceramah, harus sadar bahwa kalau bukan karena kebangkitan Imam Husein
as, sesungguhnya kita tidak akan menang dalam revolusi. Persatuan rakyat yang
merupakan sumber kemenangan (revolusi) kita muncul berkat acara-acara duka
memperingati Asyura. Acara-acara ini efektif sebagai lahan dakwah Islam. Imam
Husein as, penghulu para syahid kita, telah menyiapkan sarana bagi
rakyat supaya mereka bisa berkumpul tanpa ada kesulitan. Masjid-masjid menjadi
basis perjuangan rakyat. Dari sanalah asas-asas kemenangan Revolusi dirintis
dan dibangun.
Selain itu, Imam
Husein as. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan di dalam dan
luar medan pertempuran; apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berjuang
dengan senjata, dan apa yang harus didakwahkan oleh mereka yang berada di garis
belakang. Beliau ajarkan bagaimana cara sebuah kelompok yang kecil jumlahnya
menghadapi kelompok yang besar jumlahnya. Keluarga beliaupun mengajarkan kepada
kita apa yang dilakukan setelah musibah itu terjadi. Apakah kita harus
menyerah? Ataukah kita turunkan perlawanan kita? Ataukah kita harus menapaki
jejak Siti Zainab as. yang senantiasa tegar di tengah musibah yang tiada
bandingnya itu dan berbicara lantang di hadapan kekufuran dan menyingkapkan
kebenaran? Atau seperti Imam Sajjad as. yang dalam keadaan sakitnya tetap
melakukan dakwah meneruskan misi ayahnya?
Peran Acara-acara Asyura dalam Kebangkitan
Rakyat
Dulu, orang munafik
selalu katakan bahwa kita adalah bangsa cengeng, supaya kita meninggalkan
majlis-majlis Asyura. Majlis-majlis Asyura ini dibubarkan oleh orang-orang yang
justru hadir di dalamnya. Apakah pembubaran ini karena majlis-majlis itu
sendiri, atau karena mereka tahu betapa pengaruhnya seperti sekarang ini hingga
mereka larang penyelenggaraannya? Masalah pelarangan dan pembubaran ini sama
halnya dengan pelarangan memakai serban, karena mereka tahu bahwa serban dan
majlis duka ini akan menjadi penjegal kepentingan dan maksud mereka.
Di bulan Muharam ini,
ketika sebuah bangsa berkumpul guna memperingati kesyahidan Imam mereka, jangan
kalian kira bahwa mereka datang hanya untuk menangisi Imam Husein as. Beliau
sama sekali tidak butuh pada tangisan kita. Tangisan itu tidak
berpengaruh (untuk pribadi beliau, peny.).
Bahwa rahasia majlis-majlis ini menyatukan mereka dan mampu membangun persatuan
di antara mereka. Di dua bulan suci ini (Dzulhijjah dan Muharam, pent.), khususnya hari
Asyura, jutaan orang berkumpul dan menyerukan hal yang sama. Dalam bulan
Muharam ini, para ulama dan khatib dapat memobilisasi rakyat dan menghimpun
mereka untuk satu tujuan. Sisi politis majlis-majlis ini lebih kuat ketimbang
sisi-sisi lainnya. Para Imam maksum as. tidak sembarang -waliyadzubillah-
menyuruh kita untuk berkabung mengenang musibah mereka. Bukan sebuah omong
kosong bahwa kita akan mendapatkan pahala saat kita menangis, membuat orang
menangis, atau pura-pura menangis sekalipun, demi memperingati musibah para
Imam kita.
Inti
masalah Asyura bukan menangis atau pura-pura menangis, tapi muatan
politis yang ada pada majlis-majlis itu. Melalui majlis-majlis ini, para Imam as. hendak
menyatukan pengikut-pengikutnya dan menggerakkan mereka untuk bangkit.
Kebanyakan perkara dalam Islam bermuatan politis. Perkumpulan-perkumpulan yang
sebagiannya diwajibkan atau di-mustahab-kan, semua itu adalah
perkara-perkara politik. Salah satunya ialah haji. Di Mekkah, jutaan muslimin
berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah atas mereka. Ini
bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Dia mewajibkan haji supaya
muslimin berkumpul di satu tempat dan membicarakan hal-hal yang berhubungan
dengan Islam.
Sayangnya, karena ketidaktahuan kita, umat
Islam memang berkumpul di Mekkah, tapi tidak tergerak untuk mendiskusikan
masalah-masalah mereka. Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih baik. Alangkah
baiknya bila negara-negara muslim itu sedikit mau bersusah payah;
memberangkatkan sebagian rakyatnya untuk ibadah haji hingga mereka bisa
berkumpul bersama saudara muslim lainnya. Muatan politis dalam muktamar besar
umat Islam di haji adalah mereka saling berkenalan dengan yag lain, mengetahui
persoalan masing-masing dan mencoba untuk mencari jalan keluarnya.
Kalaulah umat Islam menunaikan ibadah haji
itu sesuai dengan ruhnya, tentu mereka tidak akan menemui berbagai problema
seperti sekarang ini. Alangkah baiknya bila negara-negara ini memahami hikmah pertemuan
rakyat mereka di Mekkah dan tidak tunduk pada kekuatan-kekuatan besar dunia.
Semestinya, mereka paham bahwa memerintah rakyat yang sadar masih lebih baik
daripada memerintah rakyat yang tidak tahu apapun. Menanggung musibah karena
menentang kediktatoran lebih baik ketimbang hidup senang dalam perbudakan.
Kalau saja mereka sadari hal ini, mereka akan
permudah urusan haji bagi rakyat mereka hingga ibadah haji berlangsung lebih
baik lagi daripada sekarang. Atau, mereka sendiri yang pergi haji dan duduk
bersama pemimpin-pemimpin negara lain guna membicarakan jalan keluar persoalan
mereka. Bila hal ini terwujud, niscaya Islam akan menjadi satu kekuatan dunia
yang tak tertandingi.
Selain haji, ada hari
raya Ied; satu momentum lain bagi muslimin untuk berkumpul dan
bersatu. Begitu pula halnya shalat Jumat yang di dalamnya dibicarakan berbagai
masalah terkini.
Masih ada lagi
shalat-shalat Jamaah di masjid yang memungkinkan umat Islam untuk berkumpul.
Namun, harus diusahakan supaya masjid tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang
tua, tapi anak-anak muda juga harus bergabung bersama mereka di sana. Kalaulah
kita sadari betapa banyak masalah politik yang bisa diselesaikan dalam
perkumpulan-perkumpulan seperti ini, kita tidak akan lagi santai seperti sekarang
dan membiarkan masjid-masjid itu hanya disesaki orang-orang tua. Bulan-bulan
Muharam, Shafar dan Ramadhan menyediakan banyak berkah yang tak terhitung.
Berkumpulnya rakyat untuk mengenang Imam Husein as. tetap memiliki berkahnya
yang khas, meskipun masalah-masalah politik tidak diungkapkan di
dalamnya.
Upaya-upaya Anti Syiar Islam
Pada jaman ini, kita
lebih membutuhkan majlis-majlis ini lebih dari sebelumnya. Jangan sampai kita
dihasut oleh sebagian orang agar kita mengeluarkan uang demi membiayai
perang atau korban perang. Memang benar bahwa kita harus memperhatikan para
korban perang dan menghargai jerih payah mereka selama perang. Namun, bukan
berarti kita harus konsentrasikan diri kita pada hal ini saja dan melalaikan
yang lain. Sekali lagi saya tekankan, sekarang kita lebih memerlukan
majlis-majlis takziyah (berkabung) lebih dari dahulu.
Pawai-pawai Asyura ini telah memiliki warna politis dan hal ini memang benar
adanya.
Ketika jutaan orang
berkumpul memperingati kesyahidan Imam Husein as. dan di sana para penceramah
membicarakan isu-isu terkini, di sinilah revolusi. Maka itu,
kita perlu syiar Ilahi. Sebagian
orang sering katakan bahwa karena kita sudah sukses dalam Revolusi, maka itu
kita tidak lagi perlu peringati Asyura. Ini sama saja kita tidak perlu shalat
lagi setelah kita menang dalam Revolusi. Justru kita lakukan revolusi demi
menegakkan shalat dan syiar-syiar Islam lainnya, bukan untuk meruntuhkannya.
Menjaga Asyura tetap
hidup adalah tugas politis-ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban
demi Islam berperan besar dalam memajukan Revolusi. Kita sangat berhutang budi
pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita
tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekedar menangis. Tangisan kita adalah tangisan
politis. Air mata kita akan menghancurkan segala hal yang membendung laju
Islam. Dahulu pun mereka
berkumpul meratapi kekalahan Iran dari Islam. Kalau memang tangisan itu
bermasalah, kenapa mereka tangisi kegagalan usaha mereka untuk memenangkan
Majusi atas
Islam?
Sebagian orang tidak
menginginkan kita menangisi seorang syahid Islam. Mereka mempermasalahkan
tangisan kita. Mereka tidak ingin kita menghidupkan sebuah peristiwa yang
menghancurkan penguasa jaman itu. Mereka tidak menghendaki kita menjadi seperti
para syahid Karbala. Mereka dikerahkan untuk mempropagandakan hal ini dan
sayangnya, sebagian orang malah tertipu oleh mereka. Para pemuda hendaknya
sadar bahwa semua propaganda anti syiar Islam berasal dari musuh-musuh Islam
dan disebarkan oleh antek-antek mereka. Rahasia apa yang ada di balik serban
dan majlis duka ini hingga mereka berambisi melenyapkannya?
Sesungguhnya
majlis-majlis ini adalah pemersatu umat. Mereka takut para penceramah bicara di
tengah rakyat dan menyatukan mereka menentang penjajahan. Inilah yang mereka
takutkan. Sekedar kita hadir untuk menangis tidak membuat mereka kuatir, selama
minyak kita dapat mereka ambil lalu kita diam saja. Yang mereka kuatirkan
ialah dampak politis majlis-majlis ini.
Mereka yang percaya
diri sebagai cendekiawan jangan berpikir bahwa majlis-majkis semacam ini
sudah tidak berarti lagi. Sebaliknya, tangisan-tangisan inilah yang melancarkan
kerja kita dan menyadarkan rakyat. Kita harus mengambil pelajaran dari pelarangan
Ridha Khan terhadap penyelenggaraan majlis Asyura. Ia larang majlis Asyura
karena majlis ini bertentangan dengan kepentingannya. Ia menentang ulama karena
mereka membahayakannya. Begitu pula halnya ketika ia menentang universitas. Ia
baru menyetujui universitas yang seiring dengan kemauannya dan para alumnusnya
bekerja untuk kepentingannya.
Di jaman ini, kekuatan
besar dunia menentang semua lambang keislaman bangsa kita. Propaganda mereka
lebih berbahaya dibanding ancaman perang mereka. Di sini kita harus serius
menghadapinya. Bangsa yang siap untuk syahid dan memandang kesyahidan sebagai
sebuah kemuliaan, tidak pernah merasa takut perang. Lagi pula, ketika perang
terjadi, rakyat kita akan lebih sadar dan gairah. Kalian lihat, perang
ini (perang Iran-Irak, pent.)
kembali menghidupkan Iran dan membakar semangat Revolusi. Meskipun
mulanya kita pikir bahwa perang ini merugikan, tapi ia juga membawa sisi
positif.
Memang kita banyak
kehilangan anak-anak muda kita dalam perang ini. Namun, demi tegaknya Islam,
tidak ada yang perlu ditakuti. Yang harus dikhawatirkan adalah
propaganda-propaganda mereka untuk meliburkan majlis-majlis Asyura.
Rakyat harus
bersungguh-sungguh menjaga syiar-syiar Islam, khususnya Asyura ini. Makna sabda
Rasulullah saww. “ Aku
bagian dari Husein “ adalah
bahwa agamaku tetap hidup karena dia. Semua karunia ini berasal dari syahadah beliau. Bani Umayyah bertekad untuk
melenyapkan Islam dari muka bumi dan mendirikan kerajaan Arab. Dengan
syahadahnya Imam Husein as, umat Islam sadar bahwa permasalahannya bukan antara
Arab dan non-Arab, tapi antara Islam dan kekufuran.
Oleh karena itu,
jagalah acara-acara Asyura ini baik-baik. Sesungguhnya acara seperti ini
menghidupkan Islam dalam hati kalian. Jagalah shalat Jamaah, shalat Jumat,
hari-hari besar Islam dan syiar-syiar di dalamnya. Para ulama dan penceramah
harus membimbing rakyat dalam masalah-masalah sosial-politik Islam dan
jangan lupakan majlis-majlis takziyah ini, karena dengannya kita akan tetap
hidup.
Islam telah
diperjuangkan dengan sepenuh jiwa Rasulullah saww, Keluarga dan para
sahabatnya. Ia datang dari sisi Allah dan ini harus kita jaga. Seandainya -wal`iyadzubillah-
kemenangan kita berubah menjadi kekalahan lantaran kelalaian kita,
ketahuilah bahwa Islam tidak akan kembali tegak hingga berabad-abad nanti. Ini
adalah tugas besar yang harus kita terima. Akhir jalan ini adalah syahadah dan berjumpa dengan Sayyid Al-SyuhadaAl-Husein as
serta manusia-manusia seperti beliau. Ini adalah puncak harapan semua pecinta
Allah.
Kita dengar bagaimana
para pemuda juang kita beribadah dengan khusuk di malam hari dan berjihad penuh
semangat di siang hari. Ini adalah suatu kenikmatan yang diberikan Allah kepada
kita. Jagalah nikmat ini sebaik-baiknya.
Kalian para ulama yang
ada di sini dan di tempat lain bertanggung jawab menjaga dan mensyukuri nikmat
Allah ini. Tabligh adalah perwujudan rasa syukur kalian.
Kalian harus sampaikan kepada masyarakat asas yang diperjuangkan Imam Husein
as, jalan yang ia tempuh dan kemenangan yang ia turunkan untuk Islam. Kalian
sampaikan bahwa jalan memperjuangkan Islam adalah apa yang beliau lakukan.
Beliau tahu bahwa seorang dzalim yang punya segalanya (dari segi materi) tidak
bisa dilawan dengan segelintir orang. Namun begitu, beliau yakin bahwa
kesyahidanlah yang akan memenangkan Islam dan memberinya nafas baru. Kematian
para syahid mihrab, mulai
dari Madani -semoga Allah merahmatinya-4sampai syahid terakhir kita inilah yang
akan menjamin kemenangan kita. Kesyahidan ini akan mempermalukan musuh-musuh
kalian di hadapan dunia, meski semua dunia memihak musuh kalian. Dengan semua
kebohongannya, Badan Amnesti Internasional pun memiliki bukti yang kuat. Bukti
kuat mereka adalah pernyataan kaum munafik (Barisan Mujahidin Khalg, peny.) bahwa kita mencintai
kesyahidan.
Ini adalah bulan
Muharam dan saatnya kalian harus bertabligh. Hidupkan
Muharam ini, karena semua yang kita miliki sekarang berasal dari Muharam dan
acara-acara yang diadakan di bulan ini. Kita
tablighkan Muharam dan kesyahidan Imam Husein as. Harus kita pahami seberapa besar
pengaruh syahadah beliau di dunia sampai sekarang ini. Kalau bukan karena acara-acara duka
ini, kita tidak mungkin menang dalam perjuangan kita. Semangat para pejuang
kita di medan tempur tetap berkobar karena cinta mereka terhadap Imam Husein
as.
Dalam acara-acara yang
diadakan di bulan ini, hendaknya para ulama dan penceramah membicarakan
masalah-masalah sosial-politik terkini dan menerangkan tugas rakyat dalam
menghadapi musuh. Sampaikan bahwa kita masih berada di tengah jalan, dan insya
Allah kita akan sampai di akhir jalan ini. Di atas jalan ini, apabila kita
tetap konsisten, kemenangan mutlak akan kita dapatkan, tentunya kalau kita
tidak lalai dan lengah.
Hanya
Allah Pelindung Kita
Di awal revolusi, kita
serukan slogan “Republik Islam, Merdeka, Tidak Barat-Tidak Timur “. Kita
serukan bahwa kita tidak di bawah Amerika, tidak pula di bawah Soviet.
Kita hanya berada di bawah lindungan Allah dan panji Imam Husein as. Ketika
kalian teriakan ini, tentu dunia akan bangkit menentang kalian.
Sejak
awal, harus kalian camkan bahwa tatkala Imam Husein as. bangkit menghadapi
sekian banyak musuhnya dan syahid di jalan ini, kita pun harus siap untuk
menjadi syahid. Sekarangpun, kalian lihat, meski sebagian imam Jum'at kita diteror,
mereka yang masih hidup menyuarakan lantang bahwa mereka akan tetap mengemban
tugas mereka dan siap untuk mati. Kita semua harus berjiwa demikian.
Apabila
kalian bangkit berjuang demi materi, demi ekonomi, demi kesenangan duniawi,
tentu akan banyak orang yang tidak merasa puas. Nyatanya, rakyat tidak pernah
mengeluh. Hanya mereka yang tidak dapat menikmati kembali kesenangan materi
merasa tidak puas terhadap Revolusi. Sebaliknya,
mereka yang bangkit demi Islam tidak punya angan-angan buta dan harapan kosong.
Rakyat semacam ini tidak akan pernah merasa lelah. Mereka tidak akan
mengatakan, karena kita tidak mampu mendapatkan kesenangan duniawi, maka
tinggalkan saja Revolusi. Mereka melihat bahwa harapan mereka, yaitu Islam,
telah tercapai.
Sekarang,
gelombang revolusi kalian telah menyebar ke penjuru dunia. Dahulu, orang Iran
identik sebagai budak Amerika. Hari ini, semua orang akan membenarkan bahwa
Republik Islam telah keluar sebagai pemenang, dan kemenangannya akan terus
berlanjut.
Optimis
terhadap Rahmat Allah!
Saudara-saudara
sekalian, ”Jangan putus asa dari rahmat Allah”5.
Dengan inayah Allah, kalian akan menang di dunia ini. Kalian adalah bangsa
pejuang. Bangsa yang tidak bisa melakukan apa-apa, niscaya terlantar,
menyendiri. Amerika, Soviet atau kekuatan lainnya akan takut pada bangsa
seperti ini. Dahulu, mereka perlakukan rakyat seperti domba yang mereka perah
dan potong-potong.
Memang
benar sebagian orang dapat mengenyangkan perut mereka, tapi bagaimana dengan
orang-orang miskin? Kebanyakan rakyat kita berada di bawah garis kemiskinan,
tidak mendapat perhatian sama sekali. Sekarang, dalam waktu yang singkat ini,
mereka mendapatkan perhatian lebih daripada waktu itu. Namun, hal ini bukan
alasan dan tujuan kebangkitan kalian. Ini hanyalah sebuah berkah Revolusi. Yang
kalian inginkan ialah Islam. Yang kalian harapkan ialah kemerdekaan dari
belenggu Barat dan Timur, dan ini telah kalian capai. Untuk itu, jagalah hasil
jerih payah kalian ini.
Sekarang,
sebagian orang percaya bahwa kita harus pilih Barat atau Timur. Tapi, rakyat
sudah tidak lagi menerima hal ini, karena sejak awal kebangkitan, mereka ingin
merdeka dan bebas dari keduanya. Setelah darah anak-anak mereka tumpah di jalan
ini, apakah mereka bersedia berbalik ke belakang? Tidak, mereka tidak akan
lakukan hal ini dan akan tetap teguh di jalan mereka.
Jangan
lupa bahwa kalian telah unjuk kekuatan di hadapan dunia. Semua
dibuat bingung bagaimana cara menghadang kekuatan kita. Sebelum ini,
belum pernah sebuah kelompok kecil mampu memamerkan kekuatannya melawan
kekuatan-kekuatan besar dunia.
Kalian
telah hidupkan Islam dan kalian bertanggung jawab untuk menjaganya.
Mulai dari para marjie (mujtahid) sampai talabeh (pelajar
agama) yang baru memulai, semua berkewajiban untuk melindungi Islam. Para
penceramah bertanggung jawab untuk membangunkan rakyat melalui khutbah-khutbah
mereka. Para ulama dan imam Jamaah hendaknya bergabung bersama rakyat di
pos-pos mereka. Alhamdulilah, rakyat pun selalu siap dan kita patut berterima
kasih kepada mereka.
Sejujurnya,
kita benar-benar berhutang budi kepada mereka yang telah memberikan apa yang
mereka miliki dan tidak meminta balasan dari kita, mulai dari wanita-wanita tua
yang memberikan apa yang mereka simpan selama hidup, sampai orang-orang yang
memecahkan celengan mereka demi Islam, semua turut serta dalam perjuangan.
Saya
tidak mampu untuk menghargai mereka sepenuh-penuhnya. Saya hanya bisa
berharap semoga Allah selalu memberikan inayah-Nya kepada mereka. Dan, semoga
Allah melindungi kalian semua, sehingga kita dapat menjaga majlis-majlis duka
Imam Husein ini dengan semestinya. Wassalamu`alaikum wa rohmatullah wa
barokatuh.[]
[1] Disadur oleh Alam
Firdaus, dari Sahifeh-e Nur, Intisyarat sahami Chapkhaneh Wizarate Islami,
Tehran, 1362 HS, ceramah 25 Mehr 1361 HS/ 29 Dzulhijjah 1402 HQ. [2] Imam Ali bin Husein
Zainal Abidin as (Putera Imam Husein as , Imam ke-5) dimakamkan di pekuburan
Baqi Madinah
[3] Sayyidah Zainab binti
Ali bin Abi Thalib (Saudara Imam Husein as)
[4] Syahid Asad Allah Madani,
wakil Imam dan imam shalat Jum'at Tabriz yang dibunuh oleh munafiqin di mihrab.[5] Q.S. Yusuf: 87(Dikutip dari situs HPI,
Qom, www.islamalternatif.com)