Don't miss

Thursday, February 6, 2014

Tiga Alasan Menolak Buku "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia"


 
Oleh. Ir. Irwan Mushaddaq

Setelah membaca buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang ditulis oleh Tim Penulis MUI Pusat, saya merasa ingin menanggapi bahwa sebenarnya apa tujuan dan motivasi dari penulis tersebut. Kita sebagai umat manusia yang memiliki beragam budaya, dan perbedaan pandangan yang mendiami Republik tercinta ini tidak selayaknya mengklaim kebenaran sepihak dan mengecam pihak lain yang berbeda dengan kita. Syiah adalah bagian dari umat Islam, kaum Syiah adalah saudara bagi kaum Sunni. Baik Syiah maupun Sunni merupakan kekuatan umat Islam karena memiliki satu Tuhan, mengakui kenabian Muhammad saw, dan satu kiblat.

Kita hidup dalam alam Indonesia yang terlalu rukun bila dibandingkan dengan Negara-negara lain. Berbagai perbedaan ada di antara kita, adalah rahmat dari Sang Kuasa, oleh sebab itu marilah kita terima perbedaan ini sebagai sebuah kultur dan keyakinan yang tetap satu dalam bingkai ukhuwah Islamiyah di bawah bingkai Negara Indonesia.

Dengan demikian, setelah membaca buku itu kemudian membandingkan dengan realitas baik data referensi maupun fakta, maka ada tiga alasan kenapa saya menolak buku, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia”. Tiga alasan itu adalah sebagai berikut:

1. Buku tersebut tidak bisa dijadikan panduan bagi umat Muslim Indonesia khususnya dan dunia umumnya dalam merajut ukhuwah Islamiyah. Karena buku tersebut tidak memberikan penguatan pesan ukhuwah di tubuh umat Islam yang belakangan ini sedang didera berbagai fitnah sectarian. Buku ini lebih pantas dikatakan lahir dari adanya kelompok intoleran yang tidak menginginkan persatuan dan tidak mengakui Ahlulbayt sebagai saudara dalam Islam.

2. Buku tersebut sebenarnya tidak mewakili MUI Pusat (bukan hasil kajian Tim yang dibentuk secara resmi oleh MUI Pusat). Buku tersebut diterbitkan tanpa sepengetahuan MUI Pusat, bahkan bertolak belakang dengan pandangan-pandangan mereka, seperti: Ketua Umum MUI Pusat (KH Sahal Mahfudz), Wakil Ketua MUI Pusat (Prof Din Syamsuddin), Ketua MUI Pusat (Prof Dr Umar Shihab) dan juga Sekjend MUI Pusat (Drs. H. Ichwan Sam) yang selama ini menjunjung tinggi persatuan umat Islam dan mendukung pendekatan antara mazhab Sunni-Syiah.

3. Buku tersebut sangat bertolak belakang dengan 9 hasil konferensi Internasional Islam yang dilaksanakan di Hotel Barobudur, Jakarta pada tanggal 23-24 April 2013. Dimana dalam Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari Indonesia, Yordania, Jepang, Taiwan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Mesir, Oman, Arab Saudi, Sudan, dan Timor Timur. Konferensi ini dimotivasi oleh keinginan bersama untuk mempromosikan pesan suci Islam, yaitu persaudaraan, toleransi, peradaban, dan perdamaian. Konferensi juga bertujuan untuk merespon persepsi negatif tentang Islam di dunia. []

Sumber artikel: Kompasiana. http://media.kompasiana.com/buku/2014/02/04/tiga-alasan-kenapa-saya-menolak-buku-mengenal-dan-mewaspadai-penyimpangan-syiah-di-indonesia-632836.html

Tuesday, January 21, 2014

Kristen Iran Bicara Tentang Kondisi Mereka


12 Imam - Agata Abrahamian, seorang Kristen Iran, bagian dari 0,5 persen populasi di negara yang dipimpin Hassan Rouhani ini berbicara tentang komunitasnya. Tentang perwakilan di parlemen bagi orang Kristen, kebebasan beragama, dan penghargaan warga Muslim kepada mereka.

Pada akhir Oktober-November lalu, di Korea Selatan Dewan Gereja Dunia (WCC) mengadakan sidang raya. Perwakilan gereja-gereja di seluruh dunia hadir. Beberapa mendapat kesempatan untuk berbicara tentang kondisi mereka: Mesir, Iran, Palestina, India, dan Sudan Selatan.

Komunitas Kristen Iran yang mayoritas adalah keturunan Armenia, diwakili oleh seorang mahasiswi perempuan, Agata Abrahamian. Satuharapan.com mendapat kesempatan mewawancarai lanjut setelah sidang raya melalui sosial media. Pertanyaan yang diajukan awal November 2013, dijawab pekan lalu.

Seperti hendak menjawab berbagai kritik atas negaranya, Abrahamian mengungkapkan bahwa orang Kristen di Iran—khususnya dari komunitas dia, Gereja Apostolik  Armenia—bebas menjalankan ibadah. Mereka juga bebas merayakan hari besar agama Kristen: Natal dan Paskah. Ibadah Minggu pun berjalan tanpa gangguan.

Komunitas Armenia berada di kantong-kantong tertentu, Teheran, Isfahan, Tabriz, Ooroomie dan beberapa kota lainnya. Orang Armenia juga mempunyai  dua kursi perwakilan di parlemen untuk memperjuangkan hak-hak mereka. “Misalnya, ‘uang darah’ (uang pengganti hukuman mati  bagi pelaku pembunuhan yang diberikan kepada keluarga korban, Red) dahulu nilainya berbeda antara Muslim dan Kristen, kini sama,” tulisnya.

“Muslim Iran menghargai orang Kristen Armenia,” tulisnya dengan bangga. Tentang mereka yang menjadi Kristen, Abrahamian menjawab, “Saya juga mendengar beberapa kasus.” Namun, saat ditanya tentang Pdt Saeed Abedini yang dipenjara karena imannya, ia tidak menjawab. Namun ia menekankan, “Pengikut Kristus tidak ilegal.”

Kristen di Iran

Sebagai gambaran,  menurut situs Wikipedia, kekristenan di Iran memiliki sejarah panjang, bertarikh sejak tahun-tahun awal iman. Bahkan lebih tua daripada agama negara Iran, Islam itu sendiri. Sejak awal, kekristenan selalu menjadi agama minoritas, dengan agama mayoritas negara—Zoroastrianisme sebelum penaklukan Islam, Sunni Islam pada Abad Pertengahan dan Syiah Islam di zaman modern—meskipun kekristenan mempunyai representasi yang jauh lebih besar di masa lalu daripada ini. Kristen Iran telah memainkan peran penting dalam sejarah misi Kristen. Saat ini, setidaknya ada 600 gereja untuk 250.000 orang Kristen di Iran.

Sejumlah denominasi Kristen ada di Iran. Kebanyakan menjadi anggota gereja-gereja tua milik kelompok etnis minoritas—Siria dan Armenia. Dua etnis tersebut memiliki budaya khas mereka sendiri dan bahasa. Para anggota baru, gereja-gereja kecil dari etnis minoritas tradisional Kristen maupun mereka  yang berasal dari latar belakang non-Kristen.

Gereja-gereja Kristen utama adalah: Gereja Apostolik Armenia  (antara 110.000-250.000 jemaat), Gereja Siria Timur (sekitar 11.000 jemaat), Gereja Katolik Chaldean Iran (sekitar 7.000 penganut Assyrian). Ada juga berbagai denominasi lain, beberapa contoh adalah: Presbyterian, termasuk Gereja Asiria Injili, Pentakosta, termasuk Gereja Asiria Pentakosta, Jama'at - e Rabbani (Gereja Sidang Jemaat Allah), dan Keuskupan Anglikan Iran.

Menurut Operation World, ada sekitar 7.000 dan 15.000 anggota dan penganut berbagai Protestan, Injili dan gereja-gereja minoritas di Iran, meskipun angka-angka ini sangat sulit untuk memverifikasi dalam situasi politik saat ini.

The International Religious Freedom Report 2004 oleh Departemen Luar Negeri AS mengutip jumlah agak lebih tinggi dari 300.000 orang Kristen di Iran, dan menyatakan sebagian besar di antaranya etnis Armenia diikuti oleh etnis Assyria.

Sumber Berita dan Foto : SATUHARAPAN.COM


Sunday, January 19, 2014

Buku Panduan MUI di Tangan Teroris


Buku Panduan MUI di Tangan FAO
12 Imam - KEMATIAN dan penangkapan tersangka teroris oleh Densus 88 kembali memecah keheningan jagat berita kita. Enam tersangka teroris Dayat dan kawan-kawan, ditembak mati di Ciputat. Satu lainnya ditangkap hidup-hidup di Bogor.

Meski disebut-sebut sangat terlatih dan berpengalaman, sudah lazim diketahui saat digrebek Densus, hampir selalu ditemukan buku panduan jihad dan catatan  sasaran teror berikutnya milik tersangka teroris yang tercecer.

Namun kali ini jejak tercecer tersangka teroris bertambah satu benda saat penangkapan Sadullah Rojak pada Rabu 1 Januari 2014, sekitar pukul 19.30 di Perumahan Alamanda, Desa Pasirlaja Kabupaten Bogor.

Saat penangkapan di Bogor, ada buku panduan lain yakni buku panduan MUI Pusat berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Kesesatan Syiah di Indonesia” di rumah tertangkap. Tak tanggung-tanggung jumlahnya ada 310 eksemplar terbungkus rapi dalam dua kardus.

Keberadaan buku panduan MUI di tangan tersangka teroris tentu mencemaskan seiring dengan meningkatnya mobilisasi kebencian dan hasutan kekerasan terhadap Muslim Syiah di Indonesia.

Nurakmat, Ketua RW 08 wilayah Pasirlaja tempat Sadullah Rojak ditangkap mengatakan bahwa buku itu berjumlah 310 dan sempat dibawa ke Polres Bogor dan turut diperiksa beserta pemiliknya. Menurut Nurakmat akibat kejadian itu warga perumahan Alamanda sepakat akan lebih meningkatkan kewaspadaan di lingkungan mereka agar hal yang sama tidak terulang kembali.

Nurakmat sendiri sebenarnya tidak begitu percaya bila salah seorang warganya adalah tersangka teroris. Meskipun selama ini sudah sering ada laporan dari warga sekitar soal tempat tinggal tersangka dan gerak-gerik mereka yang mencurigakan.

“Saya sebenarnya tidak percaya kalau warga saya ada yang menjadi teroris. Tapi setelah mencocokkan data-data yang dibawa oleh Densus 88 dengan yang ada di rumah tersangka, barulah saya percaya dan tidak bisa berbuat apa-apa,”  tutur Nurakmat.

Terkait  buku “Mengenal dan Mewaspadai Kesesatan Syiah di Indonesia” yang dimiliki para teroris, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto mengatakan bahwa semua bukti yang diambil dari TKP (Tempat Kejadian Perkara ), baik TKP penangkapan maupun tempat mereka tinggal, semuanya akan diteliti satu-persatu. Termasuk buku terbitan MUI yang ditemukan. Belum jelas betul apakah buku itu akan menjadi rangsangan teror dan Muslim Syiah menjadi sasaran berikutnya.

“Semua itu akan kita teliti satu-persatu, kenapa ada di sana, apakah itu jadi bahan pedoman mereka atau gimana. Itu akan kita pelajari dan dalami lebih lanjut,” papar Rikwanto saat diwawancarai oleh wartawan media Ahlulbait Indonesia di kantornya. Rikwanto mengatakan akan terus menyelidiki barang-barang temuan termasuk dari mana pasokan buku-buku MUI berasal.

“Apalagi di antara buku tersebut kita temukan buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, yang itu juga akan kita pelajari. Apakah Syiah juga calon sasaran terorisme? Kami belum dapatkan kesimpulan tersebut,” ujar Kombes Rikwanto.

Sementara itu, penerbit buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yaitu Gema Insani Press yang berada di Depok, hingga saat penulisan ini belum dapat dikonfirmasi.

Beberapa kali wartawan media Ahlulbait Indonesia mendatangi kantor penerbitan buku-buku agama ini untuk meminta keterangan atas masalah buku MUI, namun hingga tulisan ini dibuat, pihak Gema Insani Press beralasan belum dapat memberi waktu menerima wartawan media Ahlulbait Indonesia.

Sementara pihak MUI Pusat saat kami temui secara tegas menolak tindakan terorisme yang dibuktikan dengan keluarnya fatwa MUI Pusat sejak tahun 2004 bahwa terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menyangkut kemanusiaan dan peradaban.

“Itu kan sudah kita fatwakan bahwa terorisme itu haram hukumnya dan bom bunuh diri itu juga haram,” ucap Ketua MUI Pusat KH Amidhan, saat diwawancarai di kantor MUI Pusat.

Amidhan juga menjelaskan bahwa negara Indonesia itu bukan maqam-nya untuk jihad. Karena Indonesia itu adalah negara suluh, negara damai dan bukanlah negara perang atau pun negara harbi (kondisi perang).

“Maka dari itu fatwa-fatwa MUI tidak boleh menyebut, orang ini kafir, lalu halal darahnya. Itu tidak ada di sini. Karena di sini negara damai,” jelas Amidhan mempertegas bahwa negara Indonesia bukanlah negara barbar.

Lebih lanjut Amidhan menjelaskan bahwa Islam Itu hanya punya dua arti, yaitu pertama berarti tunduk dan patuh, kemudian yang kedua adalah berserah diri kepada Allah SWT.

Ada pun terkait buku-buku yang dimiliki para teroris saat mereka tertangkap, Amidhan menegaskan bahwa pemerintah harus tegas dan berani melarang peredaran buku-buku tersebut. Terutama buku-buku yang dianggap provokatif dan menimbulkan maraknya terorisme. Amidhan juga meminta Polri untuk menyita buku apa pun yang terbukti berada di tangan teroris dan sekaligus menjadi buku pegangan mereka.

“Polri mestinya nggak usah banyak bicara! Disikat aja buku seperti itu dan dibekukan,” tegas Amidhan.

Ketika media Ahlulbait Indonesia memberitahu bahwa salah satu buku yang dimiliki oleh tersangka teroris di Bogor adalah buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia,” Amidhan agak sedikit terkejut dan mengatakan bahwa buku tersebut tidak ada hubungannya dengan terorisme.
“Ini kan kita tidak tahu. Ini kan tidak ada hubungannya dengan teroris kan, buku ini,” tegas Amidhan. Amidhan mengatakan tidak apa-apa bahkan walaupun seandainya ditemukan buku sebanyak setengah juta, itu pun tidak ada masalah menurutnya karena tidak ada kaitannya dengan terorisme. Saat ditanya tentang kebenaran apakah buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” MUI yang menerbitkan, Amidhan menyebutkan bahwa MUI Pusat tidak menerbitkan buku tersebut, sebab MUI tidak memiliki banyak uang untuk menerbitkan buku itu.

Wartawan media Ahlulbait Indonesia mencoba menggali informasi dari Amidhan mengapa buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia“ tidak ada stempel MUI seperti buku-buku pedoman milik MUI lainnya. Namun Amidhan tidak mau membahas lebih jauh, dan berulang kali menolak untuk membicarakan buku tersebut.

Sementara Noor Huda Ismail, pengamat terorisme sekaligus penulis buku “Temanku Teroris” ketika diwawancarai oleh media Ahlulbait Indonesia menjelaskan bahwa terorisme yang ada di Indonesia saat ini memiliki pola yang berbeda-beda.

Menurutnya ada tiga level teror yang terjadi di Indonesia. Level individu. Motif dalam teror ini cukup banyak, salah satunya adalah ideologi sebanyak 10 persen. Kemudian level kelompok. Motif level didasari oleh motif balas dendam, yang biasa disebut oleh para teroris dengan sebutan Jihad Fai. Yang ketiga level konteks. Motif level ini menarik sengketa di negara lain sebagai pembenaran untuk melakukan aksi teror di negeri tersebut.

Noor Huda Ismail menjelaskan cara kerja teroris yakni realita membentuk ide atau ide membentuk realita. Kedua hal tersebut bisa dipakai sekaligus, seperti yang pernah ikut konflik di Ambon ataupun Poso, realita lah yang membentuk ide mereka menyerang.

Tapi kemudian ada juga yang melihat film, mendengar ceramah atau membaca atau terpengaruh buku yang kemudian tergerak untuk melakukan aksi teror. Nah, ini yang disebut ide membentuk realita. Buku MUI yang ditemukan di Bogor mengkhawatirkan bagi Noor Huda Ismail. Menurutnya seolah ada yang menarik konflik di Suriah dengan isu bahwa Bashar al-Assad adalah Syiah dan Jabhar al-Nusra adalah Sunni masuk menjadi ke konflik sektarian Sunni-Syiah di Indonesia.

Menurut Noor Huda, saat ini ada pergeseran serangan kelompok teroris dari yang awalnya menyasar aparat keamanan, kini bergeser ke isu sektarian dan menyerang kelompok lain, salah satunya adalah Syiah. Masyarakat menurutnya perlu diedukasi bahwa muslim Syiah yang ada di Indonesia itu tidak ada kaitannya dengan muslim Syiah atau perang yang ada di luar sana.Hal ini terlihat jelas pada beberapa narasi di situs yang ada di internet. Betapa senjumlah kelompok teroris menunjukan kebenciannya yang begitu menggumpal terhadap Syiah.  Sehingga hal semacam ini sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah.
“Pertempuran Sunni-Syiah itu nggak mutu,” sebut Noor Huda. Dia menghimbau pemerintah agar fokus pada penegakan hukum dan jika kelompok-kelompok tersebut sudah mengadvokasi kekerasan, menurutnya, pemerintah harusnya berani untuk menangkapnya.

“Bila mereka menganjurkan pembunuhan, misalnya “Bunuhlah Syiah.” Nah, itu memang seharusnya ya sudah ditangkap, karena memang dia kan udah melakukan pelanggaran bila seperti itu,” tegas Noor Huda.

Sementara itu pengamat teroris yang lain, Najib Azca yang juga penulis buku “After Jihad” menjelaskan fenomena terorisme yang ada di Indonesia saat ini sejalan dengan semakin tersedianya referensi yang cukup luas. Baik itu dalam bentuk buku-buku atau pun dalam bentuk website di internet. Hal ini memudahkan setiap orang untuk mengakses sumber-sumber informasi yang memicu tindakan terorisme.

Najib Azca menjelaskan bahwa pada saat ini pola rekrutmen teroris di Indonesia sudah mengalami pergeseran yang sangat nyata. Para teroris tidak lagi melakukan training dan pencucian otak dengan cara tatap-muka di tempat-tempat tersebunyi seperti yang dulu sering dilakukan. Saat ini, generasi teroris baru menggunakan sumber terbuka seperti buku-buku dan internet yang mampu merangsang untuk melakukan aksi teror.

Generasi teroris yang baru menjadikan instrumen teknologi untuk memberi materi radikalisasi bagi rekrutmen teroris untuk mempengaruhi orang, agar melakukan tindakan radikal dan hal ini terbagi dalam dua level.

Level pertama adalah materi yang mampu merubah cara berfikir pembaca dan menerima sebuah ide atau gagasan tertentu, sebagai sebuah pembenaran untuk melakukan aksi teror. Materi ini mengubah seseorang yang belum mendukung aksi terorisme, berubah menjadi mendukung terorisme.

Pada level kedua bagaimana melakukan aksi teror tersebut. Dalam level kedua inilah ada panduan bersifat teknis. Materi-materi generasi teroris yang sekarang sudah mengarah pada level yang kedua. Contohnya “How to Do Terror” atau “How to Make Bomb from your Mom’s Kitchen” yang diterbitkan oleh Al-Qaida pada tahun 2010.

Menurut Najib Azca buku panduan “Mengenal dan Mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia” tergolong bagian dari level pertama, yaitu bagaimana mengubah pandangan seseorang bercorak radikal ataupun intoleran terhadap pandangan-pandangan lain yang berbeda dalam beragama, yang dianggap menyimpang.

Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” akan menjadi propaganda bagi penganut paham keagamaan yang bersifat radikal dan intoleran, sehingga akan memberi pembenaran bagi sebuah kelompok untuk melakukan tindakan tertentu terhadap kelompok lain yang dianggap menyempal dari pandangan keagamaan yang mereka miliki.

“Ini adalah bagian dari proses untuk mengkampanyekan pandangan-pandangan intoleran melalui berbagai cara yang salah satunya adalah melalui internet dan juga melalui penerbitan buku-buku seperti itu,” sebut Najib.
Najib Azca mengharapkan agar MUI lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataannya kepada publik dan agar lebih peka melihat situasi dan kondisi di tengah masyarakat.

“MUI harus lebih arif lagi dalam mengeluarkan pernyataan-pernyataannya kepada publik, sehingga pernyataan-pernyataan MUI tidak dapat digunakan oleh kelompok radikal tertentu sebagai landasan untuk melakukan tindakan teror terhadap kelompok lain,” ucap Najib Azca. []

Thursday, January 16, 2014

Media Televisi dan Konflik Sektarian


12 Imam - Politik "pecah dahulu, kemudian kuasai" merupakan bagian dari kebijakan Inggris di era imperialis untuk mencapai ambisi-ambisi ilegal mereka. Strategi itu sampai sekarang masih berlaku demi mempertahankan dan memperluas pengaruh Barat di dunia Muslim. Proyek menyulut pertikaian antara Sunni dan Syiah merupakan sebuah kebijakan permanen yang dijalankan selama bertahun-tahun oleh kaum arogan dunia. Musuh-musuh Islam mengobarkan bara konflik di tengah kaum Muslim dengan membesar-besarkan dimensi perbedaan antara mazhab-mazhab Islam dan mengabaikan poin persamaan mereka.

Tragisnya, sekelompok Muslim yang termakan hasutan musuh telah menjadi alat kepentingan kaum arogan dan melakukan tindakan yang sejalan dengan ambisi-ambisi musuh yaitu, memecah persatuan dan solidaritas umat Islam. Contoh nyata kasus ini adalah perilaku para pengelola televisi-televisi satelit dan parabola yang sekilas terlihat religius, tapi pada dasarnya mereka mengkampanyekan perselisihan di tengah umat Islam. Sejumlah dokumen rahasia menunjukkan bahwa beberapa televisi satelit tersebut dioperasikan dengan menerima suntikan dana dari pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Arab Saudi.

Para operator jaringan televisi yang berbau agamis itu menargetkan individu-individu Muslim yang fanatik buta, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah. Tentu saja, kelompok Wahabi memanfaatkan peluang itu dengan maksimal dan menyebarluaskan ajaran sesat mereka sebagai akidah Ahlu Sunnah. Misi jaringan televisi tersebut tidak lain kecuali menghina mazhab-mazhab Islam dan melecehkan ajaran-ajaran mereka serta menyebarluaskan ucapan-ucapan tendensius. Sebagai contoh, televisi satelit "Ahlul Bayt" – yang mengklaim mengikuti mazhab Syiah – mengkampanyekan perpecahan dan melecehkan akidah Ahlu Sunnah serta berusaha mempopulerkan hadis-hadis yang berbau perpecahan.

Televisi "Ahlul Bayt" menentang keras Republik Islam Iran dan menghina para marja' besar Syiah seperti, Imam Khomeini ra dan Ayatullah Sayid Ali Khamenei, sebagai penyeru persatuan di dunia Islam. Direktur dan pengelola televisi itu dipimpin oleh seorang pemuda yang minim pengetahuan. Ia ingin memperlemah posisi para pemimpin umat Islam dengan menghina dan melecehkan mereka. Dalam aksi penyamarannya, ia bahkan menghina beberapa sahabat Nabi Saw dan istri-istri beliau. Menariknya, jaringan televisi tersebut tidak hanya disiarkan langsung dari Amerika Serikat, tapi juga dibiayai oleh pemerintah setempat.

Di Amerika, ada undang-undang yang mengatur tentang kegiatan jaringan televisi satelit. Aturan itu menyebutkan bahwa sebuah jaringan televisi jika melakukan pelecehan terkecil terhadap sakralitas sebuah mazhab atau pemikiran atau kelompok sosial, maka jaringan televisi itu akan ditutup dan izin pengoperasiannya dibatalkan. Sekarang pertanyaannya adalah mengapa jaringan televisi "Ahlul Bayt" yang sepenuhnya menyebarluaskan kebencian, tidak ditutup? Jawabannya sangat jelas, mengingat pemerintah Washington adalah pendukung utama terhadap mereka yang memantik perpecahan di tengah umat Islam atau membenci Republik Islam Iran.

Ada juga jaringan televisi lain yang lebih fanatik dalam menciptakan pertikaian umat Islam, yaitu "Kalima TV" yang secara bohong mengklaim sebagai pengusung panji Ahlu Sunnah, tapi faktanya adalah milik Wahabi. Penelusuran di situs Kalima TV, membuktikan bahwa televisi tersebut tidak memiliki misi lain kecuali memperlebar perpecahan di antara mazhab-mazhab Islam. Kalima TV beroperasi dengan dana dari rezim Arab Saudi dan dipandu dengan bantuan think tankInggris-Amerika.

Di antara tujuan utama Kalima TV adalah memprovokasi para pengikut Ahlu Sunnah untuk kepentingan-kepentingan kelompok Wahabi. Program-program Kalima TV terkenal sangat ekstrim sampai-sampai mereka menolak pandangan setiap cendekiawan yang menentang mereka dan juga tidak mengakui para ulama Ahlu Sunnah yang menyeru persatuan. Kalima TV berusaha maksimal untuk memperkenalkan mazhab Syiah sebagai kelompok sempalan dan ditolak oleh Islam.

Para pakar Wahabi di Kalima TV selalu mengandalkan riwayat-riwayat lemah yang terang-terangan ditolak oleh para ulama Syiah. Dan dengan kalimat sinis, mereka mengesankan mazhab para pengikut Ahlul Bait Nabi as sebagai kelompok sempalan.

Anggaran tahunan Kalima TV menembus angka tujuh juta dolar, di mana setengah dari itu langsung diambil dari dana lembaga agama Arab Saudi. Dari segi teknis, televisi Al-Arabiya (milik pemerintah Saudi) bertanggung jawab untuk melatih para kru Kalima TV dan merancang beberapa program jaringan televisi itu.

Televisi-televisi satelit seperti, Noor TV, Fadak, Wesal Farsi, dan Salam TV, adalah di antara media lain yang memperluas konflik di dunia Islam. Jaringan-jaringan tersebut dikesankan sebagai milik kelompok Syiah dan Sunni. Media-media itu seperti Fadak TV, kebanyakan programnya disiarkan dari luar wilayah negara-negara Islam dan umumnya dari London dan Washington. Untuk mengesankan kedekatan mereka dengan publik, televisi-televisi tersebut mengklaim bahwa biaya pengoperasian mereka diperoleh dari sumbangan umat Islam.

Pakar komunikasi IRIB, Marjan Hosseini mengatakan, "Kebanyakan jaringan televisi tersebut tidak menyiarkan iklan, padahal untuk mendapatkan sebuah broadband biasa di satelit Hotbird, televisi harus mengeluarkan 28 ribu dolar setiap bulannya dan ditambah biaya-biaya lain, mereka harus merogoh kocek sekitar 60 ribu dolar setiap bulan. Biaya itu hanya untuk mengirim program ke satelit dan dari satelit ke bumi. Pengeluaran itu tentu saja akan membengkak jika ditambah gaji para kru dan pengawai televisi… lalu dari mana mereka memperoleh dana untuk biaya operasinya? Ini adalah sebuah bukti kuat tentang ketergantungan mereka pada dolar pemerintah AS. Kualitas jaringan-jaringan tersebut terus meningkat meski sedang didera krisis ekonomi, jangkauan siaran mereka juga semakin luas."

Saat ini, kebutuhan terhadap persatuan umat Islam khususnya Syiah dan Sunni, semakin mendesak. Sementara musuh-musuh Islam menggunakan jaringan televisi satelit untuk mempermainkan emosi dan perasaan kaum Muslim. Mereka mempertajam perselisihan antara Syiah dan Sunni dengan cara menghina sakralitas sebuah mazhab.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Mereka mengerti bahwa jika mazhab-mazhab Islam saling bertengkar dan terlibat pertikaian, maka rezim Zionis akan menghirup nafas lega… karena dari satu sisi mereka mengerahkan kelompok Takfiri yang tidak hanya mengkafirkan Syiah, tapi juga mengkafirkan banyak kelompok di Ahlu Sunnah. Dari sisi lain, mereka menugaskan antek-anteknya untuk mengumpulkan kayu bakar bagi api fitnah itu, menumpahkan bensin di atas api... sarana komunikasi publik dan media diberikan kepada mereka, di mana? Di AS. di mana? Di Inggris. Ajaran Syiah yang disiarkan dari Washington dan London, tidak akan bermanfaat untuk Syiah."

Ayatullah Khamenei lebih lanjut menambahkan, "Para ulama Syiah, terutama pasca kemenangan Revolusi Islam, semua menekankan persatuan umat Islam dan persaudaraan kaum Muslim satu sama lain. Sementara musuh-musuh Islam menginginkan perpecahan dan pertikaian. Ini adalah sesuatu yang ditolak keras baik oleh Syiah maupun Sunni." (*)

Sumber : IRIB




Assad Peringatkan Dunia Bahaya Ideologi Arab Saudi


12 Imam - Presiden Suriah Bashar al-Assad, Rabu (15/1/2014), dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javar Zarif memperingatkan ideologi politik Arab Saudi adalah ancaman bagi dunia.

Assad merujuk pada ajaran Wahhabi, tradisi Islam ultra konservatif yang dominan di Arab Saudi, yang merupakan salah satu pendukung utama kelompok oposisi Suriah.

"Rakyat Suriah dan sebagian rakyat wilayah ini sudah mengetahui seberapa serius ancaman Wahhabisme. Setiap orang harus berkontribusi untuk melawan dan memberantas Wahhabisme," ujar Assad.

Komentar Assad ini muncul di tengah ketegangan politik antara Suriah dan Arab Saudi. Kedua negara itu selama ini memang selalu saling berseberangan.

Pertemuan dengan Menlu Zarif digelar kurang dari sepekan sebelum pertemuan damai Geneva II yang dirancang untuk mencari solusi damai terhadap konflik Suriah yang sudah menewaskan 130.000 orang itu.

Kantor berita Suriah SANA mengabarkan Zarif mengatakan tujuan kunjungannya ke Damaskus adalah untuk membantu memastikan konferensi Geneva II menelurkan hasil yang sesuai dengan keinginan rakyat Suriah. 

Sumber : KOMPAS